Senin, 20 April 2015

Ceritanya
terjadi saat aku masih kuliah di sebuah universitas di dekat kalimalang-Jakarta Timur. Aku menyewa kamar semi
permanen yang setengahnya tembok dan setengahnya lagi kayu milik seorang Ibu
bernama Halimah yang biasa di panggil
Bu Limah. Kamarku terletak agak di
belakang rumah bersebelahan dengan
kamar mandi. Bagian Belakang rumah
Bu Limah di batasi tembok tinggi yang di
biarkan tanpa atap, di dalamnya di
pergunakan Bu Limah untuk memelihara
tanaman dan bunga-bungaan, disana
juga tumbuh pohon belimbing yang
rindang tempat ngadem dengan
menggelar tikar. Kamarku berada persis
di depannya.
Di rumah itu hanya ada 2 kamar kost
yang kusewa bersama seorang cowok
mahasiswa juga tapi sudah skripsi jadi
jarang dirumah. Bu Limah, Ibu kostku ini
adalah seorang janda beranak tiga,
semua anaknya sudah kawin dan tidak
tinggal serumah lagi dengan Bu Limah.
Ibu kost ku ini sebenarnya udah cukup
tua umurnya kira-kira 50 tahunan,
namun menurutku, untuk wanita
seusianya tubuh Bu Limah masih
terhitung bagus, meski agak gemuk
namun masih terlihat montok dengan
bongkahan pantatnya yang bahenol dan
buah dadanya yang besar. Rambutnya
yang hitam panjang selalu di jepitnya di
belakang kepalanya dengan pembawaan
yang tenang dan ramah.
Kalau sedang dirumah Bu Limah paling
sering memakai daster tipis yang
menerawangkan bentuk tubuhnya
membuatku selalu mencuri-curi pandang
kepadanya. Buah dadanya yang besar itu
juga sering ku lihat terkadang tanpa di
dibungkus BH sehingga tampak
menggantung bergoyang-goyang saat
badannya menunduk.
Suatu hari ketika itu aku masuk siang,
jadi agak santai. Setelah membeli koran
aku kembali ke kamar untuk
membacanya, pintu kamar kubiarkan
saja terbuka agar udara segar dapat
masuk. Dari dalam kamar lewat pintu
yang terbuka kulihat ibu kost berjalan
sambil membawa handuk, rupanya mau
mandi. Dia berhenti sejenak di depan
kamarku dan menyapaku.
”Kok belum berangkat? ” Sapanya .
”Iya Bu, hari ini masuk siang”. Jawabku.
”Wah enak dong bisa santai..,” Kata Bu
Limah lagi sambil tersenyum dan
meneruskan langkahnya menuju kamar
mandi.
Dari kamar
mandi ku dengar Bu Limah
bersenandung kecil di timpali bunyi air.
Saat itu pikiranku jadi ngeres dengan
membayangkan Bu Limah telanjang
membuat kemaluanku mengeras dan
timbul keinginanku untuk mengintipnya.
Segera kututup pintu kamarku dan
dengan berhati-hati ku cari celah
sambungan papan antara kamarku
dengan kamar mandi. dan ternyata ada
sedikit lubang tipis dari cat yang sudah
terkelupas, tempatnya tepat agak
dibawah dekat bak mandi. Dengan hati
berdegub keras, ku tempelkan sebelah
kelopak mataku pada lubang tipis itu,
tampak Bu Limah yang sudah telanjang
bulat, badannya yang montok dihiasi
dengan kedua payudara besar yang
biarpun sudah agak turun tapi tetap
menantang, sedangkan pada
selangkangannya, kemaluannya yang
membukit ditutupi bulu cukup lebat.
Bu Limah menyabuni teteknya agak
lama, dia permainkan putingnya dengan
memilin-milinnya, sedang tangan yang
satu lagi menyabuni memeknya, jari
telunjuknya dimasukan berulang-ulang
sedangkan matanya tampak terpejam-
pejam mungkin sedang menikmati,
gerakannya itu kulihat seperti layaknya
orang bersenggama.
Bu Limah lalu menghentikan
kegiatannya lalu berjongkok persis
menghadapku untuk mencuci BH dan
celana dalamnya sehingga memeknya
dengan jelas ku lihat membuat gairahku
menyala-nyala. Ku keluarkan penisku
yang sudah tegang berdiri, kumainkan
dengan tanganku tak kuperdulikan lagi
kemungkinan seandainya Bu Limah
mengetahui apa yang aku lakukan.
Semakin lama nafsu seks ku semakin tak
terkendali kepalaku sudah tidak bisa
berfikir jernih lagi, yang ada di kepalaku
bagaimana caranya bisa menikmati
tubuh Bu Limah.
Bu Limah pun akhirnya selesai mandi,
setelah mengelap tubuhnya dengan
handuk, dililitkannya handuk itu
menutupi tubuhnya, sedangkan
pakaiannya di masukannya ke dalam
ember yang ada di dalam kamar mandi.
Aku pun segera bersiap-siap dengan
rencanaku. pun keluar dari kamar mandi.
Ketika Bu Limah melewati kamarku cepat
ku buka pintu kamarku dan tanpa
berkata-kata lagi kupeluk tubuh Bu
Limah dari belakang sambil menarik
handuk yang di pakai Bu Limah hingga
ahirnya Bu Limah telanjang, tanganku ku
remaskan ke buah dadanya.
”Aw, aduh.., apa-apaan nih..,” Pekik Bu
Limah terkejut.
”Aduh Dal, jangan Dal ah…,” Bu Limah
mencoba menghindar.
Aku tetap tak perduli, tangan kanan ku
malah ku arahkan ke memeknya, ku
kobel-kobel dan kucolokan jariku masuk
ke dalamnya sambil ku ciumi tengkuk
dan leher belakang Bu Limah. Tubuh Bu
Limah mencoba berontak agar lepas tapi
aku tak memberikan kesempatan dengan
semakin mempereret pelukanku.
”Aduh.., dal ingat dal, ah.., Ibu sudah tua
Dal. Lepasin Ibu Dal.” Kata Bu Limah
memohon.
”Hhh.., Ibu masih seksi koq, buktinya
saya nafsu sama Ibu. Udah deh
mendingan ibu nikmatin aja lagian kan
ibu sudah lama nggak beginian.” Kataku
memaksa.
”Tapi Ibu malu Dal, nanti kalau ada
orang yang tahu gimana…?” Hiba Bu
Limah.
”Ya makanya, mending ibu nikmatin
saja, kalau begitu kan orang nggak
bakalan ada yang tahu.” Tangkisku.
Akhirnya Bu Limah pun terdiam,
tubuhnya tidak berusaha memberontak
lagi aku semakin leluasa menjelajahi
semua bagian tubuh Bu Limah, kadang
kuelus-elus terkadang kuremas-remas
seperti pada pantatnya yang besar dan
montok itu.
Menyadari sudah tidak ada penolakan
dari Bu Limah, aku semakin
mengintensifkan gerakanku ke bagian-
bagian tubuh Bu Limah yang dapat
membuat gairah Bu Limah semakin
tinggi agar tidak kehilangan momen.
”Ahh.., ssshh…, aahh…, geli Dal, ahh..,”
Bu Limah mendesah-desah pelan
pertanda nafsu seksnya sudah bangkit.
Ku putar tubuhku menghadap Bu Limah,
sambil tetap ku peluk, ku ciumi bibirnya,
dan lidahku kumasukan ke dalam
mulutnya. Bu Limah ternyata mulai
mengimbangiku, di balasnya ciuman ku
dengan ketat aku dan Bu Limah
bergantian saling menghisap bibir dan
lidah. Sambil begitu ku tuntun tangan Bu
Limah ke kemaluanku dan ku selipkan
tangannya ke dalam celana pendek
training yang ku pakai. Tanpa ku minta
Bu Limah menarik ke bawah celanaku
hingga kontolku bebas mengacung.
Digenggamnya kontoku, dengan
jempolnya kepala penisku dielus-elusnya
kemudian dikocoknya. Pelerku pun tak
luput di jamahnya dengan meremasnya
pelan, sesekali jarinya terasa menelusuri
belahan pantatku melewati anus, sensasi
seks yang ku rasakan benar-benar lain.
Leher Bu Limah ganti ku ciumi lalu turun
ke bagian dadanya. Buah dada Bu Limah
yang besar itu kuciumi, kuremas-remas,
kusedot-sedot dan ku jilati sepuasnya
sedangkan pada putingnya selain ku
pelintir-pelintir aku hisapi seperti bayi
yang sedang menetek pada ibunya, yang
ternyata membuat Bu Limah kian hot.
Tangannya mengerumasi rambutku dan
terkadang menekan kepalaku ke
payudaranya. Desahanannya semakin
sering terdengar.
”Aduh.., ahh.., sshh.., terus dal, aahh..,”
Dengan posisi
tubuh Bu Limah yang tetap berdiri, aku
merendahkan badanku, kuarahkan
mulutku ke selangkangannya, Bu Limah
ternyata tau apa yang akan kulakukan,
di renggangkannya kedua kakinya
hingga sedikit mengangkang yang
membuat ku lebih leluasa menciumi
memeknya. Ku sibak bulu jembut di
permukaan memeknya lalu ku dekatkan
bibirku ke permukaan memeknya.
Lidahku ku julurkan mengulas-ulas bibir
memek Bu Limah, itilnya ku terkadang
kujepit dengan bibirku sebelum kuhisap-
hisap. Tak ketinggalan jariku ku colokan
masuk ke dalam memek Bu Limah
sambil ku pitar-putar. Apa yang ku
lakukan itu membuat Bu Limah
menggelinjang-gelinjang dengan mulut
tak berhenti berdesah-desah
kenikmatan.
”Ahh.., aww.., yahhh.., sshh.., terus Dal,
iyaahh..”
Begitu bernafsunya aku dan Bu Limah
bercinta, hingga aku dan Bu Limah
sudah tidak perduli lagi kalau waktu itu
kami bergelut di udara terbuka di
belakang rumah Bu Limah. Tapi
akhirnya kekhawatiranku muncul juga.
Ku hentikan sejenak aktifitasku.
”Bu, sebentar yah, saya mau ngunci
pintu dulu, takut ada yang datang.”
Kataku sambil berdiri.
”Oh iya, untung kamu ingat, tapi cepet
yah Dal, Ibu sudah nggak tahan nih,”
Jawab Bu Limah nakal. Aku hanya
tersenyum, sambil berlalu kuremas dulu
tetek Bu Limah.
Sebenarnya jarak ke pintu hanya
beberapa meter saja, berhubung aku dan
Bu Limah sedang diliputi kenikmatan
seks hingga tak mau kehilangan waktu
meski sekejap.Setelah
mengunci pintu aku kembali, kontolku
terayun-ayun waktu berjalan karena
celanaku sudah terlepas meskipun aku
masih memakai kaos.
”Kalau pintu depan dikunci nggak Bu?”
Tanyaku ketika sudah dekat Bu Limah.
”Dikunci, dari pagi Ibu belum
membukanya.” Jawab Bu Limah sambil
merengkuh tubuhku ke pelukannya.
”Dal kita pindah ke kamar yuk!” Pinta Bu
Limah.
”Disini aja deh bu, cari suasana lain,
pasti Ibu belum pernah kan ngewe di
sama bapak dulu di tempat terbuka
seperti ini.”
”Ah, kamu ini ada-ada saja.” Elak Bu
Limah sambil membuka kaosku.
Aku dan Bu Limah kembali berpagutan
di atas kursi yang ku tari dari depan
kamarku, tubuh Bu Limah ku pangku di
atas pahaku, Bu Limah semakin aktif
menciumi ku, pentilku pun di hisap dan
di jilatinya sedangkan tanganku
menggerayangi memeknya yang semakin
basah.
Bu Limah kemudian berdiri lalu
berjongkok di hadapanku, di
hadapkannya mukanya ke arah kontolku
lalu lindahnya menjulur mengulas-ulas
kepala kontolku beberapa saat kemudian
di masukannya kontolku ke dalam
mulutnya, di hisap-hisapnya dengan
menggerakan kepalanya maju mundur,
kemudian pelirku di hisapnya juga.
Gerakan lidah Bu Limah benar-benar
membuatku di penuhi kenikmatan.
”Ahh, enak Bu..,” Erangku penuh nafsu.
Tanganku mempermainkan buah
dadanya yang menggantung bergoyang-
goyang, sesekali ku remas rambutnya
dan ku tekan kepalanya agar semakin
dalam mulutnya melahap kontolku.
Bu Limah lalu menghentikan hisapannya
pada kontolku.
”Dal, ayo kontolmu masukin, memek Ibu
sudah kepengen banget di ewe.”
Pintanya sambil membaringkan
tubuhnya di atas tikar dengan kedua
kakinya dilebarkan memperlihatkan
memeknya yang mumplu.
Tanpa berkata lagi aku menyusul Bu
Limah dan ku kangkangi tubuhnya dari
atas. Bu Limah meraih kontolku lalu di
arahkannya ke lubang memeknya.
Setelah pas lalu ku tekan perlahan-lahan
hingga kontolku masuk seluruhnya ke
dalam memek Bu Limah lalu ku tarik
dan ku masukan lagi dengan gerakan
semakin cepat. Mulut Bu Limah terus
berdesis-desis menahan nikmat. Tubuh
Bu Limah terhentak-hentak karena
dorongan tubuhku, buah dadanya yang
bergerak-gerak indah kuremas-remas
penuh nafsu, sambil terus bergerak aku
dan Bu Limah berpelukan erat, mulutku
dan mulutnya saling hisap.
Bu Limah lalu memintaku berganti posisi
di atas, aku berbaring dan Bu Limah
duduk di atas selangkanganku setelah
kontolku di masukannya ke dalam
memeknya. Bu Limah menggoyang-
goyangkan pantatnya, terasa seperti
memeknya memilin-milin kontolku. Dari
bawah tetek Bu Limah ternyata tampak
lebih indah menggantung bergoyang-
goyang.
Aku dan Bu Limah kembali ke posisi
semula. Gerakan aku dan Bu Limah
semakin liar. Tusukan kontolku semakin
cepat yang diimbangi dengan gerakan
pantat Bu Limah yang kadang bergoyang
ke kiri dan ke kanan kadang ke atas dan
ke bawah menambah semakin panasnya
permainan seks yang aku dan Bu Limah
lakukan. Hingga akhirnya ku rasakan
cairan spermaku segera keluar.
”Bu saya mau ke luar..,” Erangku.
”Ibu juga mau keluar, Dal..,” Desah Bu
Limah.
Aku dan Bu Limah saling berpelukan
dengan ketatnya, bibirku dan bibir Bu
Limah saling hisap dengan erat dan
spermaku pun menyemprot di dalam
memek Bu Limah.
Beberapa saat aku dan Bu Limah saling
diam menikmati sisa-saisa kenikmatan.
Sambil berbaring di atas tikar di bawah
pohon rambutan yang rindang dengan
tubuh sama-sama telanjang aku dan Bu
Limah melepas lelah sambil ngobrol dan
bercanda. Tanganku mempermainkan
tetek Bu Limah entah mengapa aku suka
sekali dengan tetek Bu Limah itu.
Aku dan Bu Limah lalu membersihkan
badan di kamar mandi, saling gosok dan
sambil remas hingga gairah ku dan
gairah Bu Limah kembali bangkit, aku
dan Bu limah kembali bersetubuh di
kamar mandi sampai puas.
Wanita seusia Bu Limah memang sangat
berpengalaman dalam memuaskan
pasangannya, mereka tidak egois dalam
menyalurkan gairah seksnya, bahkan
yang kurasakan Bu Milah cenderung
memanjakanku agar mendapatkan
kenikmatan yang setinggi-tingginya.
Maka karena itulah akupun merasa di
tuntut untuk bisa mengimbanginya.
Gairahku terhadap Bu Milah entah
kenapa selalu menyala., maunya setiap
hari aku bisa menggaulinya, dan
ternyata Bu Milah pun demikian. Hal ini
kudengar sendiri ketika aku mengajaknya
untuk bersetubuh padahal ketika itu
teman kostu sedang ada di kamarnya.
Saat Bu Milah sedang mencuci piring ku
dekap dia dari belakang, tapi dengan
halus Bu Limah menolaknya.
”Jangan sekarang Dal, nanti temanmu
tahu.” Kata Bu Limah.
”Tapi Bu, saya sudah nggak tahan..,”
Sanggahku.
”Ibu juga sama, malahan ibu pengennya
tiap hari begituan sama kamu.”
Akhirnya aku mengalah dan kembali ke
kamarku dengan kepala penuh hasrat
yang tak terlampiaskan.
Sudah 4 hari ini gairahku tak tersalurkan,
aku dan Bu Milah hanya bisa saling
bertukar kode tanpa bisa berbuat lebih,
hingga ketika itu sore, mendadak
temanku pulang ke kampungnya setelah
dapat telepon bapaknya sakit. Setelah
temanku pergi ku kunci pintu lalu segera
aku mencari Bu Limah. Di dalam rumah
tampak Bu Limah baru keluar dari
kamarnya. Bu Limah ketika itu memakai
baju kurung berkerudung sepertinya Bu
Limah mau pergi.
”Mau ke mana Bu?” Tanyaku
mendekatinya.
”Ibu mau ngaji dulu Dal..,” Jawab Bu
Limah.
”..Bu, ayo dong, sudah lama nih..,”
Rujukku.
”Nanti aja yah Dal, Ibu cuma sebentar
koq ngajinya.”
”Ayo lah Bu sebentar aja..,” Paksaku
sambil ku peluk Bu Limah. Tanganku
segera saja menjalar ke balik baju Bu
limah yang gombrong. Buah dada Bu
Limah yang besar yang selama beberapa
hari ini ku rindukan, jadi mainanku.
”..Dasar kamu, nggak sabaran banget..,
tapi sebentar aja yah!” Rengek Bu Limah
akhirnya pasrah.
Ternyata Bu Limah juga sudah panas,
ciuman bibirku segera di balasnya
dengan bergelora. Meskipun waktu itu Bu
Limah memakai kerudung tak
menghalangi aku dan Bu Limah untuk
saling berbagi kenikmatan malahan aku
merasa ada nuansa yang lain yang kian
membuat gairah bercintaku menjadi-jadi
dan permintaan Bu Limah melepas
kerudungnyapun kularang.
”Dal, kerudungnya Ibu lepas dulu yah!”
Pinta Bu limah.
”Jangan Bu, biarin saja, saya semakin
bernafsu melihat pakai kerudung..”.
Larangku.
”Ah kamu ini ada-ada saja.”
Sambil terus berciuman Bu Limah
melepas Bhnya, lalu bajunya ku angkat
ke atas dan ku sorongkan wajahku
menjamah buah dadanya. Ku ciumi dan
ku jilati sepuas-puasnya. Bu Limah
merengek-rengek kecil sambil tangannya
mengerumasi rambutku.
”..Ah.., ngghh.., yah.., sshh.., ahh..,”
Suara Bu Limah pelan.
Tangan Bu Limah menarik celanaku
hingga kontolku yang sudah keras itu
mengacung bebas, lalu di
permainkannya kontolku dengan
meremas-remasnya.
Kain bawahan yang di pakai Bu Limah
ku angkat dan ku gelungkan di
pinggangnya, lalu pantatnya ku remas-
remas setelah kutarik celana dalamnya.
”Dal.., ayo Dal cepet masukin..,” Pinta
Bu Limah.
”Iya Bu, disini aja ya Bu! Jawabku
sambil membimbing tubuh Bu Limah ke
kursi panjang yang ada di ruang tamu.
”Tapi nanti kalau ada orang gimana
Dal?” Tanya Bu Limah khawatir.
”Tenang aja Bu, kan kita nggak
telanjang” Aku meyakinkan Bu Limah.
”Dal, Ibu di atas yah..!” Bu limah
meminta posisi di atas.
Aku mengiyakan kemauan Bu Limah, ku
dudukan tubuhku di atas kursi panjang
dengan posisi agak berbaring,
selanjutnya Bu limah menempatkan
tubuhnya di atasku, dengan kedua kaki
melipat sejajar pahaku, lalu Bu limah
menurunkan tubuhnya dan mengarahkan
memeknya ke kontolku. Kontolku di
pegangnya agar pas dengan lubang
memeknya. Setelah itu Bu Limah
menekan tubuhnya hingga kontolku
masuk ke dalam memeknya sampai
dasar lalu diputar-putarnya pantatnya,
lalu diangkatnya memeknya dan di tekan
lagi sambil di putar-putar dengan
gerakan semakin cepat .
Buah dada Bu Limah yang besar
bergoyang keras mengikuti gerakan
tubuh Bu Limah yang semakin liar itu
segera ku sosor dengan mulutku, ku
ciumi dan ku hisapi hingga
meninggalkan tanda merah, sementara
tanganku meremas-remas bongkahan
pantatnya.
Biarpun Bu Limah tidak melepas pakaian
dan kerudungnya persetubuhan aku dan
Bu Limah tetap dahsyat malah semakin
membuatku bernafsu.
Ku imbangi gerakan Bu Limah dengan
menghentakan pantatku ke atas apabila
Bu Limah Menekan ke bawah sehingga
aku merasakan kontolku seperti
menghujam ke dalam memek Bu Limah,
membuatnya semakin terhempas-
hempas kenikmatan.
”Ahhh.., ssshh.., mmhh.., Yaahh..,” Mulut
Bu Limah tak berhenti merintih.
”Ayo Dal, terus tusuk yang dalam
memek Ibu.., iyyahh..,” Katanya di sela-
sela rintihannya.
Setelah beberapa saat aku dan Bu Milah
saling menggenjot dengan posisi Bu
Milah tetap di atas, kurasakan spermaku
mau keluar.
”Bu saya mau keluar.., Bu..,” Erangku.
”Ibu juga dal, mau kaluar.., aahh..,”
Balas Bu Limah.
Gerakan tubuh ku dan tubuh Bu Limah
sudah tidak beraturan lagi, aku dan Bu
Limah semakin liar menjelang klimaks.
Tubuhku dan tubuh Bu Limah saling
peluk erat, bibir ku dan bibir Bu Limah
bertautan erat saling hisap, hingga
akhirnya tubuhku dan tubuh Bu Limah
sama-sama mengejang, spermaku pun
tumpah di dalam memek Bu Limah. Aku
dan Bu limah bersama-sama menikmati
puncak permainan seks yang bergelora
walaupun tidak begitu lama.
Aku dan Bu Limah sama-sama terdiam
dengan masih berpelukan menikmati
sisa-sisa gairah. Setelah keadaan dirasa
normal Bu Limah mengangkat tubuhnya
lalu berdiri, baru tampak olehku kalau
pakaian dan kerudung yang dipakai Bu
Limah begitu acak-acakan akibat
pergumalan tadi.
”Udah ya Dal, Ibu mau berangkat.” Kata
Bu Limah sambil beranjak menuju kamar
mandi. Aku lalu mengikutinya. Aku dan
Bu Limah sama-sama masuk kamar
mandi untuk membersihkan cairan sisa
pergumulan. Sambil saling bercanda aku
dan Bu Limah saling Basuh.
”Gara-gara ini nih Ibu jadi terlambat..,”
Kata Bu Limah sambil meremas pelan
kontolku yang mulai layu.
Aku hanya nyengir mendengar gurauan
Bu Limah. Setelah dirasa bersih aku dan
Bu Limah keluar dari kamar mandi, aku
masuk ke dalam kamarku sedang Bu
Limah berjalan ke dalam rumah.
Ku ganti kaos dan celanaku lalu aku
duduk di depan kamarku, ngeroko
sambil baca koran. Dari dalam terlihat
Bu Limah berjalan ke arahku dia
sekarang sudah rapi kembali.
”Dal, Ibu berangkat ngaji dulu yah..,
kalau mau istirahat jangan lupa pintu
depan kunci dulu.” Kata Bu Limah.
”Iya Bu”. Jawabku sambil berdiri dan
berjalan mengikuti Bu Limah, iseng ku
remas pantat Bu Milah yang bergoyang-
goyang dari belakang, Bu Limah hanya
mendelik manja.
”..ah nakal kamu Dal, belum puas yah..?”
”Nggak tahu nih Bu, kalau ngelihat Ibu
bawaannya jadi nafsu.”
Setelah menutup pintu aku kembali ke
kamar untuk tidur siang.
Malamnya aku dan Bu Limah nonton TV
berdua di rumahnya, kami hanya
mengobrol dan bercanda saja, tak enak
juga untuk mengajak Bu Limah
bersetubuh lagi kasihan sepertinya dia
cape. Ketika aku mau kembali ke kamar
kudengar telepon Bu Limah berdering
yang ternyata dari cucunya Bu Limah
yang mengatakan bahwa besok siang
mau berkunjung. Wah alamat gairahku
bisa tak tersalurkan lagi nih, kataku
dalam hati.
Esoknya, kira-kira jam setengah tujuh
pagi, aku bangun dan langsung mandi.
Saat berjalan ke kamar mandi kulihat Bu
Milah sedang berada di dapur dengan
hanya memakai daster tipis membuat
gairahku naik. Ketika mandi pikiranku
terus tertuju ke Bu milah, pikirku, kalau
nggak sekarang menikmati tubuh Bu
Limah bisa gigit jari deh, soalnya cucu
Bu Limah kalau datang bisa berhari-hari,
dan acara mandi pagi pun ku percepat.
Setelah selesai mandi, aku segera masuk
kembali ke dalam kamarku lalu memakai
kaos dan celana pendek biar praktis. Aku
lalu ke luar dari kamarku sambil
mengendap-ngendap mendekati Bu
Limah yang sedang berdiri di depan
meja dapur membelakangiku. Setelah
dekat dengan Bu Milah langsung ku
susupkan kepalaku ke bawah pantat Bu
Milah setelah terlebih dahulu bagian
bawah dasternya aku angkat , ternyata
Bu Milah tidak memakai celana dalam,
dan belahan pantat Bu Milah pun ku
ciumi penuh nafsu.
”Aw!.., apaan nih..!” Teriak Bu Limah
terkaget-kaget merasakan sesuatu pada
pantatnya, tapi setelah tahu aku yang
melakukannya Bu Limah pun tenang
kembali.
”Iiih, kamu ini ngapain sih, ngagetin Ibu
aja, untung Ibu nggak Jantungan”.
Rutuknya, sambil membiarkan saja apa
yang aku lakukan terhadapnya.
Ku ciumi sekeliling pantat Bu Milah yang
masih berwangi sabun, rupanya Bu
milah juga baru habis mandi. Dari balik
dasternya, tanganku ku julurkan ke ke
atas untuk meraih teteknya yang
menggantung yang juga tidak tertutup
BH, setelah terpegang lalu ku remas-
remas, sedangkan Bu Milah sejauh ini
masih cuek saja dengan terus memilih-
milih sayuran.
”Dal, Ibu sih sudah menebak kalau pagi
ini kamu pasti minta jatah sama Ibu.”
Kata Bu Milah.
”Koq Ibu tahu..?.” Tanyaku dari balik
dasternya.
”Kamu semalam denger kan kalau cucu
Ibu mau datang. Kasihan deh kamu Dal,
bakal nganggur beberapa hari, hi.., hi..,
hi..,” Jawab Bu Milah sambil tertawa
mengikik membayangkan penderitaanku
nanti.
”Iya Bu, nasib-nasib.., ” Sesalku.
Bu Limah kembali tertawa mendengar
ratapanku itu.
Sambil terus menciumi pantat Bu Limah,
kuminta dia melebarkan kedua kakinya
agar mengangkang, lalu ku geser
tubuhku semakin kedalam dan ku
balikan badanku dengan wajah
menghadap keatas persis di bawah
memek Bu Limah. Memek Bu Limah
yang berbulu tebal itu lalu ku ciumi dan
ku jilati, lubang memeknya ku masuki
dengan jari tanganku sambil ku putar-
putar di dalamnya. Bu Milah pun
mengimbangi dengan menggoyang-
goyangkan dan menekan-nekankan
pantatnya, sepertinya gairah Bu Milah
pun mulai naik.
”Dal berhenti sebentar, Dal” Pintanya.
Dan setelah aku menghentikan
kegiatanku, dengan masih tetap berdiri di
tariknya kursi makan di sebelahku lalu
diangkatnya satu kakinya dan di letakan
di atas kursi, dengan posisi seperti itu
memungkinkan aku semakin bebas
menjelajahi memeknya. Memek Bu
Limah pun kembali ku jelajahi dengan
rakus.
Tak lama berselang, kurasakan tubuh Bu
Limah yang kini setengah berbaring
dengan kepala menggeletak di atas meja,
mengejang, satu tangannya menekan
kepalaku membuatnya tersuruk kian
dalam ke memeknya disertai dengan
lenguhan panjang. Setelah itu perlahan-
lahan gerakan tubuh Bi Limah pun
melemah, kemudian terhenti, hanya
dengus nafasnya saja terdengar masih
cepat.
Seiring dengan melemahnya gerakan Bu
Limah, aku pun menghentikan
permainan ku pada memek Bu Limah.
Tanganku kini berpindah meremasi buah
dada Bu Limah yang menggantung
bergoyang-goyang karena kepala Bu
Milah masih tergeletak di atas meja dan
tubuhnya menjadi doyong ke depan.
Mulutku ikut menyerbu, buah dada Bu
Milah dengan rakus ku ciumi, ku hisapi
dan kuremas-remas.
Setelah merasa pulih, Bu Milah lalu
bangkit, dan akupun kemudian duduk di
atas kursi. Bu Milah lalu memelukku dari
arah depan hingga kedua teteknya yang
empuk menghimpitku karena saat itu aku
masih duduk di kursi. Bu Limah
menciumi kepalaku lalu ciumannya turun
ke wajah. Aku dan Limah saling
berpagutan dan bertukar lidah.
Bu Limah Lalu jongkok, di tariknya
celana pendekku hingga kontolko yang
sudah keras itu mengacung.
Dipermainkannya kontolku dengan
mengocoknya lalu dimasukannya ke
dalam mulutnya sambil di hisap-
hisapnya.
Aku dan Bu Limah menuju ke menu
utama permainan, dengan
menyingsingkan dasternya, Bu Milah lalu
membaringkan tubuhnya diatas meja
dengan satu kaki tetap menginjak lantai
sedang yang satunya di angkat
melintang sejajar tepian meja,
menampilkan pemandangan erotis pada
memeknya. Terlihat memeknya sedikit
mendongak. Segera kuarahkan kontolku
ke belahan memek Bu Limah, kemudian
ku dorong hingga amblas dan ku tarik
lagi dengan lebih cepat. Tubuh Bu Milah
terhempas-hempas terdorong oleh
hentakanku, untung saja meja makan
yang di jadikan tumpuan tubuh Bu
Limah kuat, itupun sesekali beradu juga
dengan dinding hingga menimbulkan
suara berdegup. Aku dan Bu Limah lalu
berganti posisi dengan berbaring di
lantai dapur. Bu Limah memiringkan
tubuhnya, aku yang sudah berjongkok di
depannya segera mengangkat dan
menahannya dengan pandak satu kaki
Bu Limah hingga terpentang, lalu
kuarahkan kontolku ke memek Bu Limah
yang tampak merekah itu dan ku
tusukan hingga dasar memek Bu Limah.
Ketika kurasakan saat-saat puncak
sudah dekat, ku setubuhi Bu Limah
dengan meniindihnya dari atas, mulutku
menciumi buah dada Bu Limah dan
kedua kaki Bu Limah melingkar di
pinggangku. Setelah beberapa kali
hentakan keras, a khirnya aku klimaks,
spermaku tumpah di dalam memek Bu
Limah. Aku dan Bu Limah berpelukan
erat dengan bibir saling berpagutan, aku
dan Bu Limah mengahiri pergulatan
dengan puas.
Setelah itu aku dan Bu Limah segera
bangkit karena khawatir kalau-kalau
cucu Bu Limah datang, dan benar saja
tak lama setelah aku tidur-tiduran di
kamarku terdengar cucu-cucu Bu Limah
datang.
Ternyata cucu Bu Limah tinggal lama
karena sekolahnya sedang libur panjang,
tinggal aku yang sengsara menahan
gairah sama Bu Limah yang tidak dapat
tersalurkan. Akhirnya aku tak tahan lagi,
suatu sore, ketika Bu Limah hendak
mandi dan cucunya sedang main di
depan, ku hentikan langkah Bu Limah di
depan kamarku dengan berpura-pura
ngobrol aku utarakan hasratku pada Bu
Milah.
”Bu, saya sudah nggak tahan lagi nih..,”
Rengekku pelan pada Bu Limah.
”Sabar dong Dal, kamu kan tahu sendiri
ada cucuku, Ibu juga sama, sudah
kepengen, tapi ya gimana.” Jawab Bu
Limah.
”Tuh Ibu juga sudah kepengen kan,
ayolah Bu, sebentar saja.” Desakku.
”Iya sih, tapi nggak ada kesempatannya,
cucu Ibu itu lho, maunya sama Ibu
terus..”
”Bu, gimana kalau nanti malam, setelah
cucu Ibu tidur Ibu pura-pura saja sakit
perut, atau setelah semua tidur Ibu nanti
ke sini.”
”Terus kalau pas kita lagi begitu ada
yang ke kamar mandi gimana?” Kata Bu
Limah Khawatir.
”Kitakan begituannya tidak di kamar
mandi.”
”Habis dimana?, di kamarmu?” Tanya
Bu Limah lagi.
”Ya nggak lah itu sih resikonya sama,
disitu aja tuh, tempatnya kan gelap,
orang nggak akan melihat kita, lagian
kalau ada orang rumah yang keluar kita
bisa segera tahu.” Kataku sambil
menunjuk tempat dekat pohon belimbing
di depan gudang yang kalau malam
gelap gulita.
”Ya udah deh kalau gitu, nanti malam
ibu coba kesini, sudah ya nanti ada
melihat.” Jawab Bu Milah setuju.
Saat Bu Limah berlalu, setelah melihat
keadaan di dalam rumah Bu Limah sepi,
aku sempatkan meremas bongkahan
pantatnya. Bu Limah hanya merintih
pelan sambil terus berjalan ke kamar
mandi.Untuk semakin mematangkan rencana,
dari sehabis isya aku berpura-pura tidur
dan lampu kamarku pun ku matikan.
Menjelang tengah malam sekitar jam
sebelas ku dengar pintu belakang rumah
Bu Limah di buka, segera kuintip dari
celah jendela, seperti yang ku harapkan,
terlihat memang Bu Milah yang keluar.
Segera aku bangun dan keluar.
Tanpa
mengeluarkan kata, setelah menutup
kembali pintu rumahnya dan melihatku
keluar dari kamar, Bu Milah langsung
menuju tempat yang telah di rencanakan,
aku menyusulnya delangkah hati-hati.
Setelah berdekatan, aku dan Bu Limah
langsung saling berpelukan sambil
berciuman dengan panas. Bibirku dan
bibir Bu Limah saling pagut dengan liar
dan penuh nafsu untuk melepaskannya
yang selama ini sama-sama di tahan.
Tanganku dan tangan Bu Limah sama
sama sibuk saling menggerayangi. Ku
selusupkan tanganku ke balik daster Bu
Limah hingga bagian bawah daster Bu
Milah ikut terangkat ketika tanganku
mulai ku remaskan ke belahan pantatnya
lalu berpindah ke depan mengobel
memeknya yang ternyata tidak bercelana
dalam. Bulu jembutnya yang lebat ku
permainkan dulu dengan menarik-
nariknya dengan pelan sebelum
menjamah memeknya. Memek Bu Limah
yang tembam itu lalu kepermainkan,
itilnya kucubit-cubit halus, jariku lalu ku
masukan ke belahan memek Bu limah
dan kuputar- putar di dalamnya.
Sedangkan tangan Bu limah segera
menyongsong kontolku yang sudah
tegang di kocok-kocoknya perlahan
batang kontolku seperti sedang
mengurut, kemudian berpindah meremas
buah zakarku.
Karena situasinya tidak begitu begitu
kondusif aku dan Bu Limah tidak
berlama-lama melakukan cumbuan,
segera saja aku dan Bu limah
bersetubuh. Dengan mencoba tetap
waspada kalau-kalau ada orang rumah
yang keluar. Tubuh Bu Limah berdiri
menyender di dinding dengan ujung
daster bagian bawah di tariknya ke atas,
satu kakinya naikan ke atas dan ku
tahan dengan tanganku, tubuhku
menghimpit tubuh Bu Limah ke dinding
dan setelah dirasa posisinya pas mulai
ku hujamkan kontolku ke memek Bu
Milah. Biarpun dalam keadaan yang tidak
begitu leluasa, aku dan Bu Limah saling
bergelut dengan liar. Aku dan Bu Limah
sama-sama penuh gairah dalam
persetubuhan yang kami lakukan.
Nafasku dan nafas Bu Limah saling
memburu. Dengan tetap menusuk-
nusukan kontolku tubuh Bu Limah sedikit
ku angkat dengan tangan ku yang
sebelumnya meremasa-remas
bongkahan pantat Bu Limah. Aku dan Bu
Limah terus bergerak untuk saling
berbagi kenikmatan dengan mulut yang
tanpa mengeluarkan suara angkat dan
kutahan. Dengan cara seperti itu
ternyata aku merasakan sensasi
bersetubuh yang lain, yang tak kalah
nikmat nya dengan persetubuhan biasa.
Aku dan Bu Milah menjadi lebih panas
dan penuh gairah untuk segera
menuntaskan permainan penuh nafsu
ini.
Mukaku ku labuhkan di tengah-tengah
payudara Bu Limah setelah Bu Limah
membuka kancing daster nya, lalu ku
permainkan buah dada Bu Limah dengan
mulutku dengan menciumi dan
menghisapinya dan pada putingnya
mulut ku menyosot seperti sedang
menyusu membuat Bu Limah meliuk-liuk
penuk nikmat.
Dan Akhinya dengan tanpa merubah
posisi kami yang tetap berdiri aku dan Bu
Limah sampai ke ujung klimaks, tubuhku
dan tubuh Bu Limah bergelut kian rapat,
pantat Bu Limah menggeol-geol tak
beraturan dengan semakin liar dan ku
hujamankan kontolku semakin kencang
sedangkan bibirku dan bibir Bu Limah
terus berpagutan dengan ganasnya
saling melumat dan bertukar lidah,
hingga pada akhirnya tubuhku dan tubuh
Bu Limah sama-sama mengejang
menahan kenikmatan yang tiada tara itu,
spermaku pun tumpah memenuhi
rongga-rongga memek Bu Limah. Tubuh
Bu Limah setengah ku gendong saat itu
dengan kedua tanganku mencengkram
pantat Bu Limah sekaligus menahan
tubuh Bu Milah.
Aku dan Bu Limah sama-sama terdiam
dengan tubuh tetap berpelukan
menikmati sisa-sisa gairah dan nafas
yang saling menderu.
”Ternyata enak juga ya Dal bersetubuh
begini.” Bu Limah berbisik pelan di
telingaku.
”Iya Bu.” Jawabku singkat.
Kontolku yang mulai menciut pun
terlepas dengan sendirinya ketika ku
renggangkan tubuhku untuk memberi
ruang kepada Bu Limah.
”Besok malam gimana Bu?” Tanyaku.
”Gimanan besok aja deh Dal, kita cari
cara yang lain, udah yah Ibu mau
masuk” Jawab Bu Limah.
”Sebentar Bu..,” Cegahku sambil
membuka lagi belahan daster bagian
dada Bu Limah yang belum sempat di
kancingkan lalu ku ciumi lagi buah dada
Bu Limah yang besar itu seperti tak ada
bosannya.
”Iihh.., kamu ini nggak ada puasnya
ya..,”. Sahut Bu Limah manja.
Tak berapa lama sosoran ku kusudahi,
dan Bu Limah lalu berjalan menuju pintu
aku mengikutinya dengan memeluknya
dari belakang, sambil berjalan ku ciumi
tengkuk Bu Limah dan tanganku ku
meremas-remas payudaranya. Setelah
meremas kontolku Bu Limah pun masuk
ke dalam rumah.
Hubungan persetubuhanku dengan Bu
Limah terus terjadi dan kian lama ku
rasakan kian hot saja hingga kalau tidak
halangan bisa tiap hari aku dan Bu
Limah bersetubuh dengan gaya yang
liar. Pergumulan penuh nafsuku dengan
Bu Limah itu terus berlangsung dengan
aman sampai aku lulus dan diwisuda
dan berlanjut saat aku mulai kerja
karena aku tetap kost/tinggal di rumah
Bu Limah.
Bahkan hingga akhirnya aku menikah
dan pindah rumah pun sesekali aku tetap
menyambangi Bu Limah untuk bercinta
dengan Bu Limah, entah kenapa aku tak
pernah bosan untuk menyetubuhi Bu
Limah, dan sebaliknya Bu Limah pun
dengan menggebu-gebu tetap
melayaniku bersenggama.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda