Nyai siti,wiwiek dan rohmah
tzzzzzzz
Nyai Siti terbangun di pagi hari
setelah mendengar anaknya memanggil-manggil nama si Dewo, dia dengan
berbisik segera membangunkan laki-laki tua yang sedang memeluk tubuhnya
itu, ”Mas Dewo, bangun…”
”A-ada apa, Nyai?” tanya Dewo. Ia menggeliat hingga kontolnya yang besar kembali bergesekan dengan kulit paha Nyai Siti.
”Anakku memanggilmu di luar… gimana ini?!” tampak raut muka Nyai Siti memucat, takut ketahuan.
Dewo dengan tenang menjawab, ”Ahh, gitu aja mesti bingung… ibunya aja jadi lonteku, masa anaknya nggak mau jadi gundikku.”
Jawaban
spontan dari Dewo tidak membuat Nyai Siti marah, justru sebaliknya, ia
segera tersenyum dan mengangguk mengerti. Dewo telah merencanakan
sesuatu.
”Kamu diam disini, Nyai!
Biar aku keluar sebentar menemui anakmu.” kata Dewo sambil bangkit
berdiri, dipandanginya tubuh molek Nyai Siti yang masih tergolek lemah
di atas ranjang bututnya.
Sebelum
keluar menemui Rohmah, Dewo membasahi tangannya dengan minyak yang ada
di dalam lemari bajunya. Itu adalah minyak pelet, untuk jaga-jaga
kalau Rohmah tiba-tiba sadar.
”Ada apa, Non Rohmah?” tanya Dewo saat sudah menjumpai gadis muda itu di ruang tengah.
”Paman
lihat ibuku tidak? Aku cari dari tadi tidak ada, mungkin paman tahu,”
jawab Rohmah tanpa curiga, sepertinya sisa pelet Dewo tadi malam masih
berbekas pada gadis itu.
Tapi
untuk berjaga-jaga, Dewo segera memegang tangan Rohmah, dioleskannya
minyak pelet yang baru ke ujung jari gadis itu. ”Ayo masuk dulu ke
kamar, nanti aku kasih tahu dimana ibumu.” kata Dewo sambil merapal
mantra pelet dalam hati.
Diserang
dengan dosis dobel seperti itu kontan membuat Rohmah takluk, tanpa
banyak bertanya ia mengikuti Dewo masuk ke dalam kamarnya. Sambil
menuntun gadis itu, Dewo memberitahu kalau Nyai Siti sedang tidur di
kamarnya. Awalnya Rohmah tak percaya, tapi setelah melihat dengan mata
kepala sendiri, ia akhirnya percaya, bahkan terkesima. Ibunya tampak
tergolek lemas di atas ranjang Dewo, dengan tubuh nyaris bugil dan
lelehan sperma di ujung bibir buah dadanya. Nyai Siti tersenyum malu
melihat kedatangan anaknya.
”Maafkan
aku, Rohmah,” kata Nyai Siti. ”tetapi memang harus kuakui, bahwa aku
sangat mendambakan pria perkasa seperti Mas Dewo, dengan kontolnya yang
panjang dan keras itu.” jelasnya.
Rohmah
hanya diam saja, bahkan saat Dewo mulai merangkul dan meremas-remas
bongkahan payudaranya, ia juga tetap diam. Melihat kepasrahan gadis
muda itu, Dewo jadi makin berani dengan melumat bibir tipis Rohmah
penuh nafsu. Rohmah membalasnya dengan tak kalah bernafsu. Nyai Siti
yang melihatnya hanya diam saja, dibiarkannya Dewo menikmati tubuh
mulus anaknya sampai puas. Dia bahkan mulai meremas dan mengusap-usap
memeknya sendiri sambil melihat Rohmah yang kini mulai menyepong kontol
panjang Dewo penuh nafsu. Hisapan dan jilatan Rohmah membuat benda itu
menegang dengan cepat. Saat sudah mencapai ukuran maksimal, dengan
kasar Dewo kemudian mendorong Rohmah hingga telentang di atas tempat
tidur, lalu disingkapnya jubah gadis muda itu sambil mulai memasukkan
kontolnya dengan paksa.
”Aduh!
Sakit!!” rintih Rohmah pilu saat memek sempitnya kembali didesak oleh
kontol Dewo yang besar dan panjang. Dia masih merasa nyeri akibat
persetubuhan kemarin, dan sekarang harus kembali mengalaminya, ah akan
jadi apa lubang kencingnya nanti?! Rohmah tidak sempat berpikir lebih
lanjut karena Dewo sekarang sudah menggoyang dan menggenjot tubuhnya
begitu keras, tampak tidak perduli dengan segala rintihan dan
desahannya.
Namun Rohmah
bersyukur karena lambat laun kesakitannya berubah menjadi rasa nikmat,
bahkan begitu nikmatnya hingga ia mencapai orgasme pertamanya tak lama
kemudian. Dewo yang masih belum apa-apa terus menggenjot tubuhnya
kuat-kuat, membuat Rohmah jadi kembali nikmat dan meraih orgasme untuk
yang kedua kalinya beberapa menit kemudian. Dewo yang keenakan terus
mencecar tubuh gadis muda itu, sambil menggoyang ia memenceti payudara
Rohmah yang baru tumbuh secara bergantian. Dewo baru berhenti setelah
Rohmah orgasme untuk yang ketiga kalinya. Sebenarnya Dewo masih ingin
terus, tapi dilarang oleh Nyai Siti.
”Kasihan
dia, ayo ganti sama aku, Mas.” ajak Nyai Siti sambil menunggingkan
pinggulnya. Dewo yang masih tetap perkasa segera mengalihkan
sasarannya, dengan cepat ia mencoblos anus perempuan cantik itu. Dewo
menyetubuhi Nyai Siti sampai istri Kyai Kholil itu orgasme.
Dewo
yang juga akan mencapai klimaks, kemudian berganti ke Rohmah, ia suruh
gadis itu untuk tidur telentang. Dewo segera menaiki dadanya dan
memasukkan batang kontolnya ke dalam mulut Rohmah, Dewo puas jika dia
bisa orgasme di tenggorokan lawan jenisnya. Terus digenjotnya mulut
mungil Rohmah sampai akhirnya… ”Arghhh… aku keluar, lonteku! Minum
pejuhku! Ini gua entot mulutmu!” erang Dewo saat orgasme.
Bertetes-tetes air mani masuk ke dalam tenggorokan Rohmah sampai gadis
itu tersedak dan terbatuk-batuk dibuatnya, tapi Rohmah tetap berusaha
untuk menelan semuanya meski masih ada beberapa yang meleleh keluar.
Nyai
Siti yang melihatnya segera mendekat untuk menjilati mulut anaknya, ia
mencari sisa-sisa air mani Dewo yang dapat ia telan. Nyai Siti rupanya
juga menyukainya. Kini kedua ibu dan anak itu sudah jatuh ke dalam
pelukan si Dewo.
Dewo
sudah akan merangkul dan mencium keduanya saat dengan tiba-tiba pintu
kamar terbuka. Ia pun terkesiap, dikiranya Kyai Kholil yang datang. Di
ujung ruangan, tegak sesosok tubuh perempuan menatap mereka dengan
matanya yang bulat. Ternyata Wiwik. Dia menatap tanpa berkedip. Tangan
kanannya tertangkup di dada, sementara yang kiri tampak meremas-remas
ujung gaun panjangnya yang kini terangkat di atas lutut. Mukanya sudah
memerah dengan nafas yang sudah ngos-ngosan parah.
Tidak
ada kemarahan di wajahnya, adik Nyai Siti itu malah tersenyum sambil
menggigit bibir bawahnya. Sejenak dia hanya diam. Dewo sudah akan
mendekatinya saat tiba-tiba Wiwik melangkah dan menyerbu ke arahnya.
Gadis itu melingkarkan tangan ke leher Dewo dan menciumi si lelaki tua
dengan penuh nafsu. Aneh, Wiwik sama sekali tidak marah meski sudah
melihat kakak dan sepupunya digarap oleh Dewo. Yang ada gadis itu malah
seperti bergelora nafsunya, seakan meminta ingin dipuaskan juga.
Dewo
tersenyum gembira, tanpa perlu susah payah memelet Wiwik, ia sudah
bisa mendapatkan tubuh gadis muda itu. Dewo akan memperawaniya, disini,
sekarang, di hadapan Rohmah dan Nyai Siti. Benar-benar situasi yang di
luar dugaannya.
Rupanya sudah
sejak tadi Wiwik mengintip dari luar pintu, mulai sejak Rohmah masuk ke
kamar ini. Wiwik curiga saat tanpa sengaja melihat Dewo menggiring
Rohmah masuk ke dalam kamar, apalagi sudah sejak pagi ia tidak melihat
Nyai Siti yang biasanya selalu rajin bangun pagi. Rupanya kakaknya itu
juga berada di kamar si Dewo. Mengintip dari lubang kunci, Wiwik
tercekat begitu melihat apa yang terjadi. Awalnya dia sama sekali tak
percaya dengan apa yang ia lihat. Disana, di atas ranjang, dilihatnya
Dewo dengan leluasa menggarap Rohmah dan Nyai Siti.
Wiwik
begitu marah, ingin ia langsung menyerbu masuk dan memarahi mereka
bertiga. Tapi segera diurungkannya begitu melihat ekspresi Rohmah dan
Nyai Siti yang sepertinya begitu menikmati persetubuhan itu. Tanpa
sadar, Wiwik jadi penasaran. Dia terus mengintip, dan lama-lama, rasa
penasarannya itu berubah menjadi rasa gairah yang meletup-letup, yang
membuat vagina sempitnya jadi gatal dan membanjir. Dan tanpa menunggu
lama, saat Dewo sudah selesai menuntaskan hajatnya kepada Rohmah dan
Nyai Siti, iapun membuka pintu dan meminta jatahnya.
Jadi
disinilah dia sekarang, berpelukan mesra dengan si Dewo sambil
menciumi bibir laki-laki tua itu dengan garang. Dewo yang sama sekali
tak siap, jadi sedikit gelagapan dibuatnya. Tapi dia cepat menguasai
keadaan. Segera dibalasnya ciuman itu, lidahnya terjulur dan bertemu
dengan lidah Wiwik. Beberapa saat lamanya lidah mereka saling membelit
seperti tak mau lepas. Wiwik dengan rakus menghirup air liur Dewo,
sementara Dewo tanpa banyak kata menurunkan gaun panjang gadis itu ke
bawah, menampakkan dua gumpal buah dada yang sedikit lebih besar dari
milik Rohmah. Putingnya yang kemerahan terlihat meruncing dan tegang.
“Aku
juga pengen, Paman.” kata Wiwik terengah sambil memberikan kedua
bulatan buah dadanya kepada Dewo, yang tentu saja disambut oleh
laki-laki itu dengan senang hati.
Dewo
segera meremas-remasnya sambil tak lupa mulutnya mengulum dan
menjilati putingnya yang mungil menggemaskan. Benda mungil itu ia
kunyah sepuas hati. Wiwik langsung mendesah keenakan dibuatnya.
Jemarinya mencengkeram erat kepala Dewo. Dibiarkannya laki-laki itu
melepas celana dalamnya hingga kini ia telanjang bulat. Hanya tersisa
jilbab model blusukan yang menghiasi kepalanya.
Pelan
Dewo mengusap gundukan vagina yang tidak berambut milik Wiwik, terasa
cairan bening mulai meluap keluar dari celahnya yang sempit. Wiwik
terus merintih, apalagi saat jemari Dewo makin menyelusup ke liang
senggamanya dan mulai menyentuh klentitnya yang menyembul indah dengan
ujung jari. ”Akhh…” Wiwik langsung melolong tertahan dibuatnya. ”Geli,
Paman!” desahnya tersentak sembari memeluk erat leher Dewo.
Dewo
segera mengajaknya pindah ke dipan, Nyai Siti tersenyum menerima
kedatangan adiknya. Sebenarnya dia sempat deg-degan juga melihat
kemunculan Wiwik, tapi setelah tahu kalau Wiwik tidak marah, bahkan
ingin ikut dalam permainan mereka, Nyai Siti jadi lega dibuatnya.
Bersama Rohmah ia pun bergeser, memberi tempat bagi Wiwik untuk
bercinta dengan Dewo, agar Wiwik bisa melepas kesucian dan
keperawanannya.
Tak banyak
cingcong, Dewo langsung merengkuh tubuh hangat Wiwik ke dalam
pelukannya. Ia memeriksa kemaluan gadis itu, masih belum cukup basah
untuk diperawani, masih perlu dicumbu sedikit lagi supaya gairah Wiwik
lebih menggelora. Dewo kembali mencium bibirnya sambil tangannya
menyusup untuk meremas-remas buah dada Wiwik yang terasa hangat dan
kenyal. Benda itu berukuran sedang saja, tapi entah kenapa Dewo
menyukainya. Mungkin karena putingnya yang sangat kecil, yang hanya
sebesar biji kacang hijau. Tampak sekali puting itu sudah sedikit
mengeras.
Perlahan tapi pasti,
perbuatan Dewo itu membuat cairan pelicin milik Wiwik menjadi semakin
banyak merembes keluar, tanda kalau memeknya sudah siap untuk dimasuki.
Sambil memegangi kontolnya, Dewo pun melakukannya. Seperti memek
perawan pada umumnya, vagina Wiwik juga terasa licin dan rapat. Batang
kontol Dewo seperti menembus lipatan daging hangat yang basah oleh
lendir. Susah sekali melakukannya. Tapi dengan pengalamannya, Dewo
akhirnya bisa juga memasukinya.
”Auw!
Arghhh!!” Wiwik menjerit lirih saat selaput daranya robek oleh kontol
Dewo. Gadis itu melepas nafas panjang, merasakan betapa ngilu gesekan
kontol Dewo di liang kemaluannya. Nyai Siti segera mengelus-elus
pundaknya untuk menenangkan, bisa dilihatnya kalau Wiwik hampir
menangis dibuatnya.
”Tahan, Wik. Nanti lama-lama juga enak kok.” kata istri Kyai Kholil itu.
”Iya, Mbak. Cuma sakit di awal saja.” tambah Rohmah sambil mengusap-usap memeknya sendiri.
Dewo
mulai menggerakkan pinggulnya, merasa senang karena cita-citanya
tercapai. Di kamar sempit berukuran 2×3 meter itu, ia bisa menikmati
tubuh semua wanita yang ada di rumah Kyai Kholil. Apa bukan beruntung
itu namanya?
Sepuluh menit
pertama mereka mengadu rasa, Wiwik masih terus merengek dan
merintih-rintih karena sakit. Baru setelah cairan pelumasnya semakin
banyak keluar, ia mulai bisa menikmati persetubuhan itu. Pasrah ia
memeluk Dewo dan membenamkan wajahnya di leher laki-laki tua itu.
Nafasnya semakin lama semakin memburu, tubuhnya semakin panas.
Titik-titik keringat mulai keluar dan lama-lama peluhnya semakin
membanjir.
Di sprei, darah
perawan Wiwik yang bercampur dengan cairan kenikmatannya tampak
membekas tak bisa hilang. Dewo terus menusukkan kontolnya, sama sekali
tak peduli dengan semua itu. Semakin lama, memek mungil Wiwik yang kini
sudah tidak perawan lagi terasa semakin nikmat membungkus batang
penisnya, hingga membuat Dewo semakin bersemangat menyetubuhi gadis
muda itu. Wiwik membalas dengan menggerakkan pinggulnya berputar-putar,
sesuai instruksi dari Nyai Siti. Ganas sekali putarannya, dia tampak
sudah sepenuhnya menikmati persetubuhan itu.
Di
sebelah mereka, tampak Rohmah dengan penuh nafsu menjilati kemaluan
Nyai Siti. Melihat permainan Dewo dan Wiwik yang begitu panas dan
mesra, rupanya membuat ibu dan anak itu jadi terangsang juga. Jadilah
sekarang mereka saling mencumbu dan memuaskan satu sama lain. Dewo
membantu dengan mengocok-ngocok memek Rohmah yang menganggur
menggunakan dua jarinya, ia begitu puas bisa memiliki budak seks
seperti mereka bertiga.
”Ahhh…”
Wiwik mendesah nikmat sambil menggoyang pantatnya ke kiri dan ke kanan.
Lipatan memeknya yang hangat terasa semakin licin dan kenyal.
Dewo
yang melihatnya jadi semakin aktif mengocok dan menekan batang
kontolnya. Tulang kemaluan mereka beradu, bibir memek Wiwik yang tebal
menahan tekanan itu dengan kuat, terasa hangat dan sangat basah karena
lendir mani Wiwik sudah melimpah sedari tadi. Dua menit kemudian gadis
itu melolong merasakan vaginanya berdenyut nikmat. ”Ooohhhhh… Paman!!”
Dewo
membantu dengan menekan kontolnya semakin dalam seiring dengan
mengalirnya air mani gadis itu yang begitu deras dan kencang, hingga
merembes dari lipatan-lipatan kemaluannya.
”Enak
sekali, Paman! Ooh!” desah Wiwik suka. Gurat-gurat kepuasan terpancar
di wajahnya yang cantik. Sekilas Dewo melihat memek gadis itu yang
memerah karena darah perawab dan bibir luarnya yang tampak membengkak
parah, cairan-cairan lendir masih menetes dari sela-sela lipatannya
yang sempit.
”Enak, Wik?” tanya
Dewo sambil mencabut penisnya. Ia yang belum ejakulasi segera
mengalihkan sasaran kepada Nyai Siti. Dientotnya istri Kyai Kholil itu
di lubang memek.
Wiwik mengangguk
dan kemudian bangkit untuk membenamkan wajahnya di susu Rohmah yang
tidak seberapa besar, Wiwik menggoda sepupunya itu dengan mencium dan
menjilati putingnya sesuka hati. Begitu dahsyatnya pengaruh Dewo hingga
dia jadi begitu liar setelah kehilangan perawannya.
Lama
mereka dalam posisi seperti itu, mungkin ada seperempat jam, sampai
akhirnya Rohmah yang sudah tak tahan mendudukkan pantatnya di wajah
Wiwik, menyuruh buliknya itu untuk mengulum dan menjilatnya. ”Ah, ayo,
Mbak! Aku sudah tidak tahan lagi.”
Sambil
meremas pinggang dan payudara Rohmah, Wiwik pun beraksi. Ia ganyang
habis vagina lembut dan basah itu. Rohmah segera merintih-rintih ingin
lekas melepas nikmat. Terlihat memeknya berdenyut-denyut kencang saat
ia menyemburkan cairan kewanitaannya, membuat mulut Wiwik jadi basah
dan lengket karenanya.
Di saat
yang hampir bersamaan, Nyai Siti juga mencapai orgasmenya. Setelah
terkejang-kejang sebentar, wanita itu ambruk di atas tubuh kurus Dewo.
Berat sekali rasanya menahan tubuh istri Kyai Kholil yang begitu montok
itu, Dewo segera menyingkirkannya. Ia yang belum ejakulasi mulai
mencari sasaran baru lagi. Tampak kontolnya masih menegang dan basah
bergelimang cairan memek Nyai Siti.
Disuruhnya
Wiwik dan Nyai Siti untuk mengulumnya sebentar sebelum Dewo mengajak
Rohmah untuk memulai ronde berikutnya tak lama kemudian. Ia bangkit
berdiri, mendorong sedikit tubuh mulus gadis itu. Dewo ingin merasakan
sesuatu yang lain, yang kemarin didapatnya dari Nyai Siti.
Ia
menguruh Rohmah berdiri membelakanginya dan menumpukan kedua tangannya
di dipan reyot yang ada di dalam kamar. Posisi Rohmah sekarang
menungging di depannya. Nyai Siti yang mengerti apa yang diinginkan
oleh Dewo, segera menyuruh anaknya untuk mengangkat pantatnya lagi.
Dari belakang, disela-sela bongkahan pantat, nampak memek Rohmah yang
membelah mungil masih meneteskan cairan kental banyak sekali.
Tapi
bukan itu sasaran Dewo, lubang anus Rohmah lah yang ia inginkan.
Dengan dua jari, Dewo mencoba menyingkapnya untuk mencari jalan, Rohmah
langsung bergidik saat merasakannya. ”Paman, apa yang Paman inginkan?”
tanyanya dengan buah dada bergetar menahan dentaman jantungnya yang
meningkat dahsyat.
”Tenang saja, kamu tahan nafas ya?!” bukan Dewo, malah Nyai Siti yang menyahut duluan.
Rohmah
segera melakukan apa yang dikatakan oleh ibunya. Ia menarik nafas
panjang saat Dewo mulai menusukkan penisnya. Creepp… laki-laki itu
berusaha keras memasuki liang anusnya, tapi gumpalan pantat Rohmah yang
bulat sekal sedikit menahan gerakannya. Dewo mencoba lagi dan menekan
lebih kuat ke depan. Akhirnya… masuk juga. Oh, rasanya seperti dijepit
dan dipilin-pilin, Dewo menyukainya. Ia menekan lagi, semakin dalam dan
kencang.
”Emhh…” rintih Rohmah tertahan.
Dewo
mulai bergerak maju mundur dan menekan-nekan, sekujur batang
kemaluannya rasanya seperti dicengkram oleh anus Rohmah yang masih
perawan. Sambil agak membungkuk, ia mencoba meraih buah dada gadis itu,
Dewo meremas keduanya dari belakang. Hangat dan sangat kenyal terasa
di kedua telapak tangannya. Dewo memutar-mutar putingnya dengan ujung
jari, membuat Rohmah yang mulai bisa menikmati jadi menggelinjang dan
merintih karenanya. Ia bahkan mengangkat pantatnya tinggi-tinggi agar
kejantanan Dewo bisa masuk lebih dalam ke dalam lorong anusnya.
Dengan
tubuh penuh keringat, Dewo terus menekan dan menggosok-gosok dinding
pantat Rohmah dengan batang kontolnya. Memang sedikit agak sulit, tapi
dia sangat menikmatinya. Kemaluan mereka sudah begitu erat menyatu
bermandikan cairan merah, darah dari anus Rohmah yang lecet parah. Tapi
bukannya mengeluh kesakitan, Rohmah justru merasa kenikmatannya
semakin meningkat, semakin lama semakin menghebat.
”Aghh…
hhh…” gadis itu menggeram menahan rasa. Nafasnya berat dan
melenguh-lenguh, keringat bercucuran dari sekujur tubuhnya.
Denyutan-denyutan penuh rasa nikmat menyerang batang kontol Dewo. Samar
dilihatnya memek Rohmah menyempit dan surrr… keluar cairan kental yang
sangat banyak, menyembur deras hingga berceceran di lantai kamar. Yang
ditusuk sebelah atas, tapi yang di bawah yang bocor.
Tubuh
Rohmah bergetar menahan rasa geli yang luar biasa, sementara Dewo
terus menekan batang kontolnya semakin dalam. Saat sudah tidak tahan
lagi, ia pun mencabut penisnya dan mengarahkannya ke muka Rohmah. Wiwik
dan Nyai Siti yang tidak ingin ketinggalan, segera menghambur
mendekat. Dengan sabar Dewo membagi air maninya pada ketiga wanita itu.
Begitulah,
sejak saat itu, jika Kyai Kholil tidak ada di rumah, Dewo dengan
sesuka hati menggenjot Wiwik, Rohmah dan Nyai Siti, tergantung siapa
yang ada. Mereka melakukannya tak pandang tempat, tidak hanya di kamar,
di dapur dan halaman belakang juga sering. Dan tidak cuma dientot,
Dewo juga bebas menyuruh apapun pada ketiga wanita itu, dan ketiganya
sama sekali tidak menolak. Mereka benar-benar pasrah menjadi budak seks
Dewo, dengan imbalan dientot di memek dan anus oleh laki-laki tua itu.
zzzz








0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda