Senin, 20 April 2015

Nikmatnya Goyangan Ibu RT Ketika Aku Entotin



Usia tidak lagi menjadi penghalang untuk orang yang ingin menikmati kepuasan seks, dan kepuasan seks bisa didapat baik dengan teman, tetangga ataupun Ibu RT> nah cerita tante girang kali ini adalah tentang seks dengan Ibu Rt yang seksi, sebagai ibu Rt yang mendampingi Pak rt, walau umur sudah cukup matang, penampilan tetap harus enak dilihat. Usia Bu hartono sebenarnya tidak muda lagi bisa disebut ibu setengah baya.

Mungkin menjelang 50 tahun. Sebab suaminya, Pak hartono yang menjabat Ketua RT di kampungku, sebentar lagi memasuki masa pensiun. Aku mengetahui itu karena hubunganku dengan keluarga Pak hartono cukup dekat. Maklum sebagai tenaga muda aku sering diminta Pak hartono untuk membantu berbagai urusan yang berkaitan dengan kegiatan RT.

Namun berbeda dengan suaminya yang sering sakit-sakitan, sosok istrinya wanita beranak yang kini menetap di luar Jawa mengikuti tugas sang suami itu, jauh berkebalikan. Kendati usianya hampir memasuki kepala lima, Bu Har (begitu biasanya aku dan warga lain memanggil) sebagai wanita belum kehilangan daya tariknya. Memang beberapa kerutan mulai nampak di wajahnya. Tetapi buah dadanya, pinggul dan pantatnya, sungguh masih mengundang pesona.

Aku dapat mengatakan ini karena belakangan terlibat perselingkuhan panjang dengan wanita berpostur tinggi besar tersebut. Kisahnya berawal ketika Pak hartono mendadak menderita sakit cukup serius. Ia masuk rumah sakit dalam keadaan koma dan bahkan berhari-hari harus berada di ruang ICU (Intensive Care Unit) sebuah RS pemerintah di kotaku. Karena ia tidak memiliki anggota keluarga yang lain sementara putri satu-satunya berada di luar Jawa, aku diminta Bu Har untuk membantu menemaninya selama suaminya berada di RS menjalani perawatan.

Dan aku tidak bisa menolak karena memang masih menganggur setamat SMA setahun lalu. "Kami bapak-bapak di lingkungan RT memita Mas Rido mau membantu sepenuhnya keluarga Pak hartono yang sedang tertimpa musibah. Khususnya untuk membantu dan menemani Bu Har selama di rumah sakit. Mau kan Mas Rido,?" Begitu kata beberapa anggota arisan bapak-bapak kepadaku saat menengok ke rumah sakit. Bahkan Pak Nandang, seorang warga yang dikenal dermawan secara diam-diam menyelipkan uang Rp 100 ribu di kantong celanaku yang katanya untuk membeli rokok agar tidak menyusahkan Bu Har. Dan aku tidak bisa menolak karena memang Bu Har sendiri telah memintaku untuk menemaninya. Hari-hari pertama mendampingi Bu Har merawat suaminya di RS aku dibuat sibuk. Harus mondar-mandir menebus obat atau membeli berbagai keperluan lain yang dibutuhkan. bahkan kulihat wanita itu tak sempat mandi dan sangat kelelahan. Mungkin karena tegang suaminya tak kunjung siuman dari kondisi komanya.

Menurut dokter yang memeriksa, kondisi Pak hartono yang memburuk diduga akibat penyakit radang lambung akut yang diderita. Maka akibat komplikasi dengan penyakit diabetis yang diidapnya cukup lama, daya tahan tubuhnya menjadi melemah. Menyadari penyakit yang diderita tersebut, yang kata dokter proses penyembuhannya dapat memakan waktu cukup lama, berkali-kali aku meminta Bu Har untuk bersabar. "Sudahlah bu, ibu pulang dulu untuk mandi atau beristirahat. Sudah dua hari saya lihat ibu tidak sempat mandi. Biar saya yang di sini menunggui Pak Har," kataku menenangkan. Saranku rupanya mengena dan diterima. Maka siang itu, ketika serombongan temannya dari tempatnya mengajar di sebuah SLTP membesuk (oh ya Bu Har berprofesi sebagai guru sedang Pak Har karyawan sebuah instansi pemerintah), ia meminta para pembesuk untuk menunggui suaminya. "Saya mau pulang dulu sebentar untuk mandi diantar Nak Rido. Sudah dua hari saya tidak sempat mandi," katanya kepada rekan-rekannya.

Dengan sepeda motor milik Pak Har yang sengaja dibawa untuk memudahkan aku kemana-mana saat diminta tolong oleh keluarga itu, aku pulang memboncengkan Bu Har. Tetapi di perjalanan dadaku sempat berdesir. Gara-gara mengerem mendadak motor yang kukendarai karena nyaris menabrak becak, tubuh wanita yang kubonceng tertolak ke depan. Akibatnya di samping pahaku tercengkeram tangan Bu Har yang terkaget akibat kejadian tak terduga itu, punggungku terasa tertumbuk benda empuk. Tertumbuk buah dadanya yang kuyakini ukurannya cukup besar. Ah, pikiran nakalku jadi mulai liar. Sambil berkonsentrasi dengan sepeda motor yang kukendarai, pikiranku berkelana dan mengkira-kira membayangkan seberapa besar buah dada milik wanita yang memboncengku. Pikiran kotor yang semestinya tidak boleh timbul mengingat suaminya adalah seorang yang kuhormati sebagai Ketua RT di kampungku. Pikiran nyeleneh itu muncul, mungkin karena aku memang sudah tidak perjaka lagi.

Aku pernah berhubungan seks dengan seorang WTS kendati hanya satu kali. Hal itu dilakukan dengan beberapa teman SMA saat usai pengumuman hasil Ebtanas. Setelah mengantar Bu Har ke rumahnya yang berjarak sekitar 100 meter dari rumahku, aku pamit pulang mengambil sarung dan baju untuk ganti. "Jangan lama-lama nak Rido, ibu cuma sebentar kok mandinya. Lagian kasihan teman-teman ibu yang menunggu di rumah sakit," katanya. Dan sesuai yang dipesannya, aku segera kembali ke rumah Pak Har setelah mengambil sarung dan baju. Langsung masuk ke ruang dalam rumah Pak Har.

Ternyata, di meja makan telah tersedia segelas kopi panas dan beberapa potong kue di piring kecil. Dan mengetahui aku yang datang, terdengar suara Bu Har menyuruhku untuk menikmati hidangan yang disediakan. "Maaf Nak Rido, ibu masih mandi. Sebentar lagi selesai," suaranya terdengar dari kamar mandi di bagian belakang. Tidak terlalu lama menunggu, Ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke kamarnya lewat di dekat ruang makan tempatku minum kopi dan makan kue. Saat itu ia hanya melilitkan handuk yang berukuran tidak terlalu besar untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tak urung, kendati sepintas, aku sempat disuguhi pemandangan yang mendebarkan. Betapa tidak, karena handuk mandinya tak cukup besar dan lebar, maka tidak cukup sempurna untuk dapat menutupi ketelanjangan tubuhnya. Ah,.. benar seperti dugaanku, buah dada Bu Har memang berukuran besar. Bahkan terlihat nyaris memberontak keluar dari handuk yang melilitnya.

Bu Har nampaknya mengikat sekuatnya belitan handuk yang dikenakanannya tepat di bagian dadanya. Sementara di bagian bawah, karena handuk hanya mampu menutup persis di bawah pangkal paha, kaki panjang wanita itu sampai ke pangkalnya sempat menarik tatap mataku. Bahkan ketika ia hendak masuk ke kamarnya, dari bagian belakang terlihat mengintip buah pantatnya. Pantat besar itu bergoyang-goyang dan sangat mengundang saat ia melangkah. Dan ah, .. yang tak kalah syur, ia tidak mengenakan celana dalam. Bicara ukuran buah dadanya, mungkin untuk membungkusnya diperlukan Bra ukuran 38 atau lebih.

Sebagai wanita yang telah berumur, pinggangnya memang tidak seramping gadis remaja. Tetapi pinggulnya yang membesar sampai ke pantatnya terlihat membentuk lekukan menawan dan sedap dipandang. Apalagi kaki belalang dengan paha putih mulus miliknya itu, sungguh masih menyimpan magnit. Maka degup jantungku menjadi kian kencang terpacu melihat bagian-bagian indah milik Bu Har. Sayang cuma sekilas, begitu aku membatin. Tetapi ternyata tidak. Kesempatan kembali terulang. Belum hilang debaran dadaku, ia kembali keluar dari kamar dan masih belum mengganti handuknya dengan pakaian. Tanpa mempedulikan aku yang tengah duduk terbengong, ia berjalan mendekati almari di dekat tempatku duduk. Di sana ia mengambil beberapa barang yang diperlukan. Bahkan beberapa kali ia harus membungkukkan badan karena sulitnya barang yang dicari (seperti ia sengaja melakukan hal ini). Tak urung, kembali aku disuguhi tontonan yang tak kalah mendebarkan. Dalam jarak yang cukup dekat, saat ia membungkuk, terlihat jelas mulusnya sepasang paha Bu Har sampai ke pangkalnya. Paha yang sempurna, putih mulus dan tampak masih kencang.

Dan ketika ia membungkuk cukup lama, pantat besarnya jadi sasaran tatap mataku. Kemaluannya juga terlihat sedikit mengintip dari celah pangkal pahanya. Perasaanku menjadi tidak karuan dan badanku terasa panas dingin dibuatnya. Apakah Bu Har menganggap aku masih pemuda ingusan? Hingga ia tidak merasa canggung berpakaian seronok di hadapanku? Atau ia menganggap dirinya sudah terlalu tua hingga mengira bagian-bagian tubuhnya tidak lagi mengundang gairah seorang laki-laki apalagi laki-laki muda sepertiku? Atau malah ia sengaja memamerkannya agar gairahku terpancing? Pertanyaan-pertanyaan itu serasa berkecamuk dalam hatiku. Bahkan terus berlanjut ketika kami kembali berboncengan menuju rumah sakit. Dan yang pasti, sejak saat itu perhatianku kepada Bu Har berubah total.

Aku menjadi sering mencuri-curi pandang untuk dapat menatapi bagian-bagian tubuhnya yang kuanggap masih aduhai. Apalagi setelah mandi dan berganti pakaian, kulihat ia mengenakan celana dan kaos lengan panjang ketat yang seperti hendak mencetak tubuhnya. Gairahku jadi kian terbakar kendati tetap kupendam dalam-dalam. Dan perubahan yang lain, aku sering mengajaknya berbincang tentang apa saja di samping selalu sigap mengerjakan setiap ia membutuhkan bantuan. Hingga hubungan kami semakin akrab dari waktu ke waktu. Sampai suatu malam, memasuki hari kelima kami berada di rumah sakit, saat itu hujan terus mengguyur sejak sore hari. Maka orang-orang yang menunggui pasien yang dirawat di ruang ICU, sejak sore telah mengkapling-kapling teras luar bangunan ICU. Maklum, di malam hari penunggu tidak boleh memasuki bagian dalam ruang ICU. Dan pasien biasanya memanfaatkan teras yang ada untuk tiduran atau duduk mengobrol. Dan malam itu, karena guyuran hujan, lahan untuk tidur jadi menyempit karena pada beberapa bagian tempias oleh air hujan.

Sementara aku dan Bu Har yang baru mencari kapling setelah makan malam di kantin, menjadi tidak kebagian tempat. Setelah mencari cukup lama, akhirnya aku mengusulkan untuk menggelar tikar dan karpet di dekat bangunan kamar mayat. Aku mengusulkan itu karena jaraknya masih cukup dekat dengan ruang ICU dan itu satu-satunya tempat yang memungkinkan untuk berteduh kendati cukup gelap karena tidak ada penerangan di sana. Awalnya Bu Har menolak, karena posisinya di dekat kamar mayat. Namun akhirnya ia menyerah setelah mengetahui tidak ada tempat yang lain dan aku menyatakan siap berjaga sepanjang malam. "Janji ya Rid (setelah cukup akrab Bu Har tidak mengembel-embeli sebutan Nak di depan nama panggilanku), kamu harus bangunkan ibu kalau mau kencing atau beli rokok. Soalnya ibu takut ditinggal sendirian," katanya. "Wah, persediaan rokokku lebih dari cukup kok bu. Jadi tidak perlu kemana-mana lagi," jawabku. Nyaman juga ternyata menempati kapling dekat kamar mayat.



Bisa terbebas dari lalu-lalang orang hingga bisa beristirahat cukup tenang. Dan kendati gelap tanpa penerangan, bisa terbebas dari cipratan air hujan karena tempat kami menggelar tikar dan karpet terlindung oleh tembok setinggi sekitar setengah meter. Sambil tiduran agak merapat karena sempitnya ruang yang ada, Bu Har mengajakku ngobrol tentang banyak hal. Dari soal kerinduannya pada Dewi, anaknya yang hanya bisa pulang setahun sekali saat lebaran sampai ke soal penyakit yang diderita Pak hartono. Menurut Bu Har penyakit diabetis itu diderita suaminya sejak delapan tahun lalu.

Dan karena penyakit itulah penyakit radang lambung yang datang belakangan menjadi sulit disembuhkan. "Katanya penyakit diabetes bisa menjadikan laki-laki jadi impotensi ya Bu?" "Kata siapa, Rid?" "Eh,.. anu, kata artikel di sebuah koran," jawabku agak tergagap. Aku merasa tidak enak berkomentar seperti itu terhadap penyakit yang diderita suami Bu Har. "Rupanya kamu gemar membaca ya.

Benar kok itu, makanya penyakit kencing manis di samping menyiksa suami yang mengidapnya juga berpengaruh pada istrinya. Untung ibu sudah tua," ujarnya lirih. Merasa tidak enak topik perbincangan itu dapat membangkitkan kesedihan Bu Har, akhirnya aku memilih diam. Dan aku yang tadinya tiduran dalam posisi telentang, setelah rokok yang kuhisap kubuang, mengubah posisi tidur memunggungi wanita itu. Sebab kendati sangat senang bersentuhan tubuh dengan wanita itu, aku tidak mau dianggap kurang ajar. Sebab aku tidak tahu secara pasti jalan pikiran Bu Har yang sebenarnya. Tetapi baru saja aku mengubah posisi tidur, tangan Bu Har terasa mencolek pinggangku. "Tidurmu jangan memunggungi begitu. Menghadap ke sini, ibu takut," katanya lirih. Aku kembali ke posisi semula, tidur telentang. Namun karena posisi tidur Bu Har kelewat merapat, maka saat berbalik posisi tanpa sengaja lenganku menyenggol buah dada wanita itu.

Memang belum menyentuh secara langsung karena ia mengenakan daster dan selimut yang menutupi tubuhnya. Malangnya, Bu Har bukannya menjauh atau merenggangkan tubuh, tetapi malah semakin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Seperti anak kecil yang ketakutan saat tidur dan mencari perasaan aman pada ibunya. Akhirnya, dengan keberanian yang kupaksakan - karena ku yakin saat itu Bu Har belum pulas tertidur - aku mulai mencoba-coba. Seperti yang dimauinya, aku mengubah kembali posisi tidur miring menghadapinya. Jadilah sebagian besar tubuhku merapat ketat ke tubuhnya hingga terasa kehangatan mulai menjalari tubuhku. Sampai di situ aku berbuat seolah-olah telah mulai lelap tertidur sambil menunggu reaksinya.

Reaksinya, Bu Har terbangkit dan menarik selimut yang dikenakannya. Selimut besar dan tebal itu ditariknya untuk dibentangkan sekaligus menutupi tubuhku. Jadilah tubuh kami makin berhimpitan di bawah satu selimut. Akhirnya, ketika aku nekad meremas telapak tangannya dan ia membalas dengan remasan lembut, aku jadi mulai berani beraksi lebih jauh. Kumulai dengan menjalari pahanya dari luar daster yang dikenakannya dengan telapak tanganku.

Ia menggelinjang, tetapi tidak menolakkan tanganku yang mulai nakal itu. Malah posisi kakinya mulai direnggangkan yang memudahkanku menarik ke atas bagian bawah dasternya. Baru ketika usapan tanganku mulai menjelajah langsung pada kedua pahanya, kuketahui secara pasti ia tidak menolaknya. Tanganku malah dibimbingnya untuk menyentuh kemaluannya yang masih tertutup celana dalam. Seperti keinginanku dan juga keinginannya, telapak tanganku mulai menyentuh dan mengusap bagian membusung yang ada di selangkangan wanita itu.

Ia mendesah lirih saat usapan tanganku cukup lama bermain di sana. Juga saat tanganku yang lain mulai meremasi buah dadanya dari bagian luar Bra dan dasternya. Sampai akhirnya, ketika tanganku yang beroperasi di bagian bawah telah berhasil menyelinap ke bagian samping celana dalam dan berhasil mencolek-colek celah kemaluannya yang banyak ditumbuhi rambut, dia dengan suka rela memereteli sendiri kancing bagian depan dasternya. Lalu seperti wanita yang hendak menyusui bayinya, dikeluarkannya payudaranya dari Bra yang membungkusnya. Layaknya bayi yang tengah kelaparan mulutku segera menyerbu puting susu sebelah kiri milik Bu Har.

Kujilat-jilat dan kukulum pentilnya yang terasa mencuat dan mengeras di mulutku. Bahkan karena gemas, sesekali kubenamkan wajahku ke kedua payudara wanita itu. Payudara berukuran besar dan agak mengendur namun masih menyisakan kehangatan. Sementara Ia sendiri, sambil terus mendesis dan melenguh nikmat oleh segala gerakan yang kulakukan, mulai asyik dengan mainannya. Setelah berhasil menyelinap ke balik celana pendek yang kukenakan, tangannya mulai meremas dan meremas penisku yang memang telah mengeras.

Kata teman-temanku, senjataku tergolong long size, hingga Ia nampak keasyikkan dengan temuannya itu. Tetapi ketika aku hendak menarik celana dalamnya, tubuhnya terasa menyentak dan kedua pahanya dirapatkan mencoba menghalangi maksudku. "Mau apa Rid,.. jangan di sini ah nanti ketahuan orang," katanya lirih. "Ah, tidak apa-apa gelap kok. Orang-orang juga sudah pada tidur dan tidak bakalan kedengaran karena hujannya makin besar." Hujan saat itu memang semakin deras.Entah karena mempercayai omonganku.

Atau karena nafsunya yang juga sudah memuncak terbukti dengan semakin membanjirnya cairan di lubang kemaluannya, ia mau saja ketika celananya kutarik ke bawah. Bahkan ia menarik celana dalamnya ketika aku kesulitan melakukannya. Ia juga membantu membuka dan menarik celana pendek dan celana dalam yang kukenakan. Akhirnya, dengan hanya menyingkap daster yang dikenakannya aku mulai menindih tubuhnya yang berposisi mengangkang. Karena dilakukan di dalam gelap dan tetap dibalik selimut tebal yang kupakai bersama untuk menutupi tubuh, awalnya cukup sulit untuk mengarahkan penisku ke lubang kenikmatannya. Namun berkat bimbingan tangan lembutnya, ujung penisku mulai menemukan wilayah yang telah membasah.

Slep penis besarku berhasil menerobos dengan mudah liang sanggamanya. Aku mulai menggoyang dan memaju-mundurkan senjataku dengan menaik-turunkan pantatku. Basah dan hangat terasa setiap penisku membenam di vaginanya. Sementara sambil terus meremasi kedua buah dadanya secara bergantian, sesekali bibirnya kulumat.

Maka ia pun melenguh tertahan, melenguh dan mengerang tertahan. Ah, dugaanku memang tidak meleset tubuhnya memang masih menjanjikan kehangatan. Kehangatan yang prima khas dimiliki wanita berpengalaman. Dihujam bertubi-tubi oleh ketegangan penisku di bagian kewanitannya, Ia mulai mengimbangi aksiku. Pantat besar besarnya mulai digerakkan memutar mengikuti gerakan naik turun tubuhku di bagian bawah. Memutar dan terus memutar dengan gerak dan goyang pinggul yang terarah. Hal itu menjadikan penisku yang terbenam di dalam vaginanya serasa diremas. Remasan nikmat yang melambungkan jauh anganku entah kemana.

Bahkan sesekali otot-otot yang ada di dalam vaginanya seolah menjepit dan mengejang. "Ah,.. ah.. enak sekali. Terus, ah.. ah," "Aku juga enak Rid, uh.. uh.. uh. Sudah lama sekali tidak merasakan seperti ini. Apalagi punyamu keras dan penjang. Auh,.. ah.. ah," Sampai akhirnya, aku menjadi tidak tahan oleh goyangan dan remasan vaginanya yang kian membanjir. Nafsuku kian naik ke ubun-ubun dan seolah mau meledak. Gerakan bagian bawah tubuhku kian kencang mencolok dan mengocok vaginanya dengan penisku. "Aku tidak tahan, ah.. ah.. Sepertinya mau keluar, shh, ah, .. ah," "Aku juga Rid, terus goyang, ya .. ya,.. ah," Setelah mengelojot dan memuntahkan segala yang tak dapat kubendungnya, aku akhirnya ambruk di atas tubuh wanita itu. Maniku cukup banyak menyembur di dalam lubang kenikmatannya. Begitupun Ia, setelah kontraksi otot-otot yang sangat kencang, ia meluapkan ekspresi puncaknya dengan mendekap erat tubuhku.

Dan bahkan kurasakan punggungku sempat tercakar oleh kuku-kukunya. Cukup lama kami terdiam setelah pertarungan panjang yang melelahkan. "Semestinya kita tidak boleh melakukan itu ya Rid. Apalagi bapak lagi sakit dan tengah dirawat," kata Ia sambil masih tiduran di dekatku. Aku mengira ia menyesal dengan peristiwa yang baru terjadi itu. "Ya Maaf,.. soalnya tadi,.." "Tetapi tidak apa-apa kok. Saya juga sudah lama ingin menikmati yang seperti itu. Soalnya sejak 5 tahun lebih Pak Har terkena diabetis, ia menjadi sangat jarang memenuhi kewajibannya. Bahkan sudah dua tahun ini kelelakiannya sudah tidak berfungsi lagi. Cuma, kalau suatu saat ingin melakukannya lagi, kita harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu dan menimbulkan aib diantara kita," ujarnya lirih. Plong, betapa lega hatiku saat itu. Ia tidak marah dan menyesal dengan yang baru saja terjadi. Dan yang membuatku senang, aku dapat melampiaskan hasrat terpendamku kepadanya.

Kendati aku merasa belum puas karena semuanya dilakukan di kegelapan hingga keinginanku melihat ketelanjangan tubuhnya belum kesampaian. Dan seperti yang dipesankannya, aku berusaha mencoba bersikap sewajar mungkin saat berada diantara orang-orang. Seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang luar biasa diantara kami. Kendati aku sering harus menekan keinginan yang menggelegak akibat darah mudaku yang gampang panas saat berdekatan dengannya. Dan sejak itu lokasi teras di belakang kamar mayat menjadi saksi sekitar tiga kali hubungan sumbang kami.

Hubungan sumbang yang terpaksa kuhentikan seiring kedatangan Bu Hartini, adik Pak hartono yang bermaksud menengok kondisi sakit kakaknya. Hanya terus terang, sejak kehadirannya ada perasaan kurang senang pada diriku. Sebab sejak Ia ada yang menemani merawat suaminya di rumah sakit, kendati aku tetap diminta untuk membantu mereka dan selalu berada di rumah sakit, aku tidak lagi dapat menyalurkan hasrat seksualku. Hanya sesekali kami pernah nekad menyalurkannya di kamar mandi ketika hasrat yang ada tak dapat ditahan. Itu pun secara kucing-kucingan dengan Bu Tini dan segalanya dilaksanakan secara tergesa-gesa hingga tetap tidak memuaskan kami berdua.

Sampai suatu ketika, saat Pak Har telah siuman dan perawatannya telah dialihkan ke bangsal perawatan yang terpisah, Bu Tini menyarankan kepada Ia untuk tidur di rumah. "Kamu sudah beberapa hari kurang tidur Mbak, kelihatannya sangat kelelahan. Coba kamu kalau malam tidur barang satu dua hari di rumah hingga istirahat yang cukup dan tidak jatuh sakit. Nanti kalau kedua-duanya sakit malah merepotkan. Biar yang nunggu Mas Har kalau malam aku saja diteman Dik Rido kalau mau" ujarnya. Ia setuju dengan saran adik iparnya.

Ia memutuskan untuk tidur di rumah malam itu. Maka hatiku bersorak karena terbuka peluang untuk menyetubuhinya di rumah. Tetapi bagaimana caranya pamit pada Bu Tini? Kalau aku ikut-ikutan pulang untuk tidur di rumah apa tidak mengundang kecurigaan? Aku jadi berpikir keras untuk menemukan jalan keluar. Dan baru merasa plong setelah muncul selintas gagasan di benakku. Sekitar pukul 22.00 malam, lewat telepon umum kutelepon rumahnya. Wanita itu masih terjaga dan menurut pengakuannya tengah menonton televisi. Maka nekad saja kusampaikan niatku kepadanya.

Dan ternyata ia memberi sambutan cukup baik. "Kamu nanti memberi tanda kalau sudah ada di dekat kamar ibu ya. Nanti pintu belakang ibu bukakan. Dan sepeda motornya di tinggal saja di rumah sakit biar tidak kedengaran tetangga. Kamu bisa naik becak untuk pulang," katanya berpesan lewat telepon. Untuk tidak mengundang kecurigaan, sekitar pukul 23.00 aku masuk ke bangsal tempat Pak Har dirawat menemani Bu Tini. Namun setengah jam sesudahnya, aku pamit keluar untuk nongkrong bersama para Satpam rumah sakit seperti yang biasa kulakukan setelah kedatangan Bu Tini. Di depan rumah sakit aku langsung meminta seorang abang becak mengantarku ke kampungku yang berjarak tak lebih dari satu kilometer. Segalanya berjalan sesuai rencana.

Setelah kuketuk tiga kali pintu kamarnya, kudengar suara Ia berdehem. Dan dari pintu belakang rumah yang dibukakannya secara pelan-pelan aku langsung menyelinap masuk menuju ruang tengah rumah tersebut. Rupanya, bertemu di tempat terang membuat kami sama-sama kikuk. Sebab selama ini kami selalu berhubungan di tempat gelap di teras kamar mayat. Maka aku hanya berdiri mematung, sedang Ia duduk sambil melihat televisi yang masih dinyalakannya.

Cukup lama kami tidak saling bicara sampai akhirnya Ia menarik tanganku untuk duduk di sofa di sampingnya. Setelah keberanianku mulai bangkit, aku mulai berani menatapi wanita yang duduk di sampingku. Ia ternyata telah siap tempur. Terbukti dari daster tipis menerawang yang dikenakannya, kulihat ia tidak mengenakan Bra di baliknya. Maka kulihat jelas payudaranya yang membusung. Hanya, ketika tanganku mulai bergerilya menyelusuri pangkal paha dan meremasi buah dadanya ia menolak halus. "Jangan di sini Rid, kita ke kamar saja biar leluasa," katanya lirih. Ketika kami telah sama-sama naik ke atas ranjang besar di kamar yang biasa digunakan oleh suami dan dia, aku langsung menerkamnya. Semula Ia memintaku mematikan dulu saklar lampu yang ada di kamar itu, tetapi aku menolaknya. "Saya ingin melihat semua milikmu," kataku "Tetapi aku malu Rid. Soalnya aku sudah tua,." Persetan dengan usia, dimataku, Ia masih menyimpan magnit yang mampu menggelegakkan darah mudaku. Sesaat aku terpaku ketika wanita itu telah melolosi dasternya.

Dua buah gunung kembarnya yang membusung nampak telah menggantung. Tetapi tidak kehilangan daya pikatnya. Buah dada yang putih mulus dan berukuran cukup besar itu diujungnya terlihat kedua pentilnya yang berwarna kecoklatan. Indah dan sangat menantang untuk diremas. Maka setelah aku melolosi sendiri seluruh pakaian yang kukenakan, langsung kutubruk wanita yang telah tiduran dalam posisi menelentang. Kedua payudaranya kujadikan sasaran remasan kedua tanganku. Kukulum, kujilat dan kukenyot secara bergantian susu-susunya yang besar menantang. Kesempatan melihat dari dekat keindahan buah dadanya membuat aku seolah kesetanan. Dan Ia, wanita berhidung bangir dengan rambut sepundak itu menggelepar.

Tangannya meremas-remas rambut kepalaku mencoba menahan nikmat atas perbuatan yang tengah kulakukan. Dari kedua gunung kembarnya, setelah beberapa saat bermain di sana, dengan terus menjulurkan lidah dan menjilat seluruh tubuhnya kuturunkan perhatianku ke bagian perut dan di bawah pusarnya.

Hingga ketika lidahku terhalang oleh celana dalam yang masih dikenakannya, aku langsung memelorotkannya. Ah, vaginanya juga tak kalah indah dengan buah dadanya. Kemaluan yang besar membusung dan banyak ditumbuhi rambut hitam lebat itu, ketika kakinya dikuakkan tampak bagian dalamnya yang memerah. Bibir vaginanya memang nampak kecoklatan yang sekaligus menandakan bahwa sebelumnya telah sering diterobos kemaluan suaminya. Tetapi bibir kemaluan itu belum begitu menggelambir. Dan kelentitnya, yang ada di ujung atas, uh,.. mencuat menantang sebesar biji jagung. Tak tahan cuma memelototi lubang kenikmatan wanita itu, mulailah mulutku yang bicara. Awalnya mencoba membaui dengan hidungku. Ah, ada bau yang meruap asing di hidungku. Segar dan membuatku tambah terangsang. Dan ketika lidahku mulai kumainkan dengan menjilat-jilat pelan di seputar bibir vaginanya besar itu, Ia tampak gelisah dan menggoyang-goyang kegelian. "Ih,.. jangan diciumi dan dijilat begitu Rid. Malu ah, tapi, ah..ah.. ah," Tetapi ia malah menggoyangkan bagian bawah tubuhnya saat mulutku mencerucupi liang nikmatnya.

Goyangannya kian kencang dan terus mengencang. Sampai akhirnya diremasnya kepalaku ditekannya kuat-kuat ke bagian tengah selangkannya saat kelentitnya kujilat dan kugigit kecil. Rupanya ia telah mendapatkan orgasme hingga tubuhnya terasa mengejang dan pinggulnya menyentak ke atas. "Seumur hidup baru kali ini vaginaku dijilat-jilat begitu Rid, jadinya cepat kalah. Sekarang gantian deh Aku mainkan punyamu," ujarnya setelah sebentar mengatur nafasnya yang memburu.

Aku dimintanya telentang, sedang kepala dia berada di bagian bawah tubuhku. Sesaat, mulai kurasakan kepala penisku dijilat lidah basah milik wanita itu. Bahkan ia mencerucupi sedikit air maniku yang telah keluar akibat nafsu yang kubendung. Terasa ada senasi tersendiri oleh permainan lidahnya itu dan aku menggelinjang oleh permainan wanita itu. Namun sebagai anak muda, aku merasa kurang puas dengan hanya bersikap pasif. Terlebih aku juga ingin meremas pantat besarnya yang montok dan seksi. Hingga aku menarik tubuh bagian bawahnya untuk ditempatkan di atas kepalaku. Pola persetubuhan yang kata orang disebut sebagai permainan 69. Kembali vaginanya yang berada tepat di atas wajahku langsung menjadi sasaran gerilya mulutku. Sementara pantat besarnya kuremas-remas dengan gemas. Tidak hanya itu jilatan lidahku tidak berhenti hanya bermain di seputar kemaluannya.

Tetapi terus ke atas dan sampai ke lubang duburnya. Rupanya ia telah membersihkannya dengan sabun baik di kemaluannya maupun di anusnya. Maka tak sedikit pun meruap bau kotoran di sana dan membuatku kian bernafsu untuk menjilat dan mencoloknya dengan ujung lidahku. Tindakan nekadku rupanya membuat nafsunya kembali naik ke ubun-ubun. Maka setelah ia memaksaku menghentikan permainan 69, ia langsung mengubah posisi dengan telentang mengangkang. Dan aku tahu pasti wanita itu telah menagih untuk disetubuhi. Ia mulai mengerang ketika batang besar dan panjang milikku mulai menerobos gua kenikmatannya yang basah. Hanya karena kami sama-sama telah memuncak nafsu syahwatnya, tak lebih dari 10 menit saling genjot dan menggoyang dilakukan, kami telah sama-sama terkapar. Ambruk di kasur empuk ranjang kenikmatannya. Ranjang yang semestinya tabu untuk kutiduri bersama wanita itu. Malam itu, aku dan dia melakukan persetubuhan lebih dari tiga kali.

Termasuk di kamar mandi yang dilakukan sambil berdiri. Dan ketika aku memintanya kembali yang keempat kali, ia menolaknya halus. "Tubuh ibu cape sekali Rid, mungkin sudah terlalu tua hingga tidak dapat mengimbangi orang muda sepertimu. Dan lagi ini sudah mulai pagi, kamu harus kembali ke rumah sakit agar Bu Tini tidak curiga," katanya. Aku sempat mencium dan meremas pantatnya saat Ia hendak menutup pintu belakang rumah mengantarku keluar. Ah,.. indah dan nikmat rasanya. Usia Pak Har ternyata tidak cukup panjang. Selama sebulan lebih dirawat di rumah sakit, ia akhirnya meninggal setelah sebelumnya sempat dibawa RS yang lebih besar di Semarang. Di Semarang, aku pun ikut menunggui bersamanya serta Bu Tini selama seminggu.

Juga ada Mbak Dewi dan suaminya yang menyempatkan diri untuk menengok. Hingga hubunganku dengan keluarga itu menjadi kian akrab. Namun, hubungan sumbangku dengannya terus berlanjut hingga kini. Bahkan kami pernah nekad bersetubuh di belakang rumah keluarga itu, karena kami sama-sama horny sementara di ruang tengah banyak sanak famili dari keluarganya yang menginap. Entah kapan aku akan menghentikannya, mungkin setelah gairahnya telah benar-benar padam. Sekian cerita tante kali ini. Makassar Kreatif akan selalu update tentang cerita cerita seks yang lebih hangat dan tentu menghibur anda. Selamat menikmati.

Beni dan Ibunya

Ibu Beni duduk dengan perlahan nyaris tak menimbulkan suara di tepi tempat tidur, Beni masih belum sadar, asik menonton. Untung saja ia tak menonton sambil mengocok kont01nya. Anna melirik layar, nampak pemain film wanita yang bertetek besar sedang merem melek disodok lawan mainnya. Sangat panas adegannya. Lama juga ia menonton. Sedikit banyak membuat gairahnya bangkit. Ia merasakan m3meknya agak basah. Tak lama Beni agak menggerakkan duduknya, biasa ganti posisi, nggak nyaman dengan celana yang sesak, saat kepalanya agak menoleh.....astaga...mama Anna...gawat deh....tengsin. Mamanya hanya melihat Beni dengan wajah datar, tanpa komentar. Beni segera melepas earphonenya, segera dengan panik mengklik tanda x untuk menutup player. Lalu dengan muka menyesal ia segera bicara...

”Ma...a...anu maaf....aduh....pokoknya maafin Beni ma, Beni bisa jelasin...”
”Jelasin apa Ben..? kamu itu ngapain nonton film kayak begitu...?”
”A...anu ma, namanya juga anak lelaki...ingin tahu...”
”Oh gitu...ingin tahu, terus kalau sudah tahu...ingin apa lagi...? Ingin ngerasain...?”
”Ya...ng...nggak lah ma.”

Anna diam sejenak, nampak berpikir sedang bergelut dengan pertentangannya.

”Ben...kamu malam minggu gini memangnya nggak ada kerjaan lain apa, selain nonton gituan...”
”Ya...ada sih ma, Cuma sekarang lagi malas main game atau internet...”
”Ah...internet ya. Mama juga lupa, mau buka situs jorok...? situs yang isinya wanita usia 30an lebih, yang teteknya besar, terus juga baca cerita jorok yang isinya obsesi terhadap mamanya, ibunya, tantenya, begitu kan...?”
”Lho...lho kok...”

Beni seperti kucing kebakaran jenggot, kok mama Anna bisa nembak dia secara tepat. Belum heran keterkejutannya mamanya mulai berbicara lagi, lebih mengejutkannya...”

”Ben...yang jujur ya...kamu sering mengkhayalkan mama kan...?”
”Eng...eh...duh...i...iya.”
”Nah...daripada kamu berkhayal, sekarang kamu wujudkan deh.”
”HAH...?A..apaan ma...?”
”Iya...kamu nggak mau mewujudkan khayalanmu ? Kalau mau, ayo, mama kasih kesempatan.”

Masih heran juga tak percaya Beni dengan ragu – ragu mendekat, tak menyangkalah dia, Beni sendiri sebenarnya sudah siap kalau mama Anna memakinya saat ketahuan nonton film tadi, tapi kok malah jadi begini. Ia mendekat Anna yang sedang duduk...

”Kamu pasti sering membayangkan ini kan...?” Anna menunjuk teteknya. Beni hanya diam.
”Mama tahu kok, film yang kamu tonton juga sama, wanitanya bertetek besar. Lho kok diam, kamu nggak mau merasakannya...?”

Beni diam saja, Anna memegang tangan Beni, mengarahkannya ke teteknya. Tangan Beni agak gemetar saat menyentuhnya. Jauh...jauh lebih besar daripada tetek si Astri. Awalnya Beni hanya memegang dan meremas dengan takut – takut, namun saat dilihatnya Anna hanya diam saja, percaya dirinya mulai timbul, remasannya makin kuat dan lebih berani. Anna mulai memejamkan matanya seekali, mulai merasakan rasa nikmat mengaliri tubuhnya. Kini Beni bahkan sudah berani menggunakan kedua tangannya. Terasa pentil mamanya yang besar dibalik dasternya itu. Kont01nya..... Seingat Beni belum pernah sekeras ini

Lagi asik meremas, mama Anna menyuruhnya berhenti dan menyuruh beni membuka bajunya...semuanya kata mama Anna. Beni menurut saja. Saat ia sudah telanjang mata Anna menatap kont01 Beni dengan kagum....sedikit lebih panjang dari Dedi, tapi tak gemuk. Nah Beni sudah membuka bajunya, biar adil maka Anna segera berdiri, sementara Beni duduk di tepi tempat tidur. Anna mulai menarik dasternya, CD hitamnya terlihat oleh Beni, perutnya dan tetek besar yang menggelantung indah itu, yang pentilnya mengacung sempurna....lalu saat mamanya mengangkat tangan membuka dasternya, Beni melihat rimbunan bulu keteknya yang lebat...astaga....Beni terangsang sekali. Astri tak mempunyai bulu ketek, namun saat ia melihat bulu ketek Anna, sungguh nafsu Beni naik sampai ke ubun – ubun....gila. Kini Anna hanya memakai CD Hitamnya.

Dan terlalu indah rasanya untuk Beni bayangkan....mama Anna mendekat ke arahnya yang sedang duduk di tepi ranjang, mamanya berjongkok di hadapannya, tangannya....oh tangan halus mama Anna mulai menggenggam kont01nya....membelainya dengan enak, memainkan bijinya, mengocoknya perlahan....lalu...astaga lidahnya mulai menjilati kepala kont01nya.......ya ampun...kalau ini mimpi, tolong jangan biarkan aku bangun....tapi ini bukan mimpi. Beni merasakan lidah mamanya mulai menjelajahi batang kont01nya memberikan sensasi kenikmatan pada titik – titik sensitifnya, dan mulut seksi itu mulai menelan kont01nya, mengulum dan menghisapnya....emutannya sangat kuat dan menggairahkan. Beni mendesah lemah....Anna mendongak sesaat matanya bertemu mata Beni....Beni makin bergairah. Benar – benar lewat si Astri pikir Beni mengomentari hisapan maut milik mamanya. Apalagi saat bijinya dihisap dan diemut....oh....sensasinya terasa sampai ke sendi...gilaaaa...Beni merem melek.

Oh apa lagi ini....mama Anna nampak makin mendekat, kont01 Beni diletakkan di antara teteknya, sementara kedua tangannya mengepit dan ditangkupkan di pinggiran teteknya, membuat kont01 Beni terjepit dengan manisnya di belahan tetek besarnya. Beni sangat antusias, dia sering melihat adegan ini di film bokep, sayangnya tetek Astri tak memungkinkan untuk mencoba cara ini. Saking antusiasnya Beni dengan lugunya berucap...

”Ma...tahu juga gaya ini ya...”
”Beni..Beni..., waktu kamu belum bisa jalan saja mama sudah kenal dan ngerti ngewek. Ya pahamlah kalau cuma gaya begini...”

Mau nggak mau Beni nyengir juga menyadari keluguannya. Mamanya juga nyengir. Mama Anna mulai menggoyangkan tetek besarnya itu, mendepetkannya makin menjepit kont01 Beni, saat tetek yang sebelah goyang ke atas, yang sebaliknya ke bawah, begitu terus bergantian, makin lama makin cepat....Aaahhh...Beni mendesah, gila enak banget kont01nya....dijepit tetek yang besar...tiada tara. Makin cepat saja Anna memainkannya, ketika ia melihat anaknya mendesah keenakkan. Beni sampai kelojotan, mati – matian menahan diri....

Akhirnya Anna menyudahi acaranya memainkan kont01 Beni. Ia berdiri, naik ke tempat tidur Beni, berbaring. Beni segera mendekat dan dengan tak sabaran mulai menyerbu teteknya....tangan remaja itu dengan ganas meremasi dengan kuat tetek besar milik mamanya yang sudah lama ia bayangkan. Keras dan kenyal. Mulutnya mulai menghisapi pentilnya yang mengacung itu, dijilati, digoyang – goyang dengan lidahnya, bergantian kiri dan kanan. Beni lalu mengangkat tangan Anna,, penasaran...ia mulai menciumi keteknya yang hitam itu, aromanya sungguh harum dan memberikan sensasi sensual, dengan rakus ia mulai menciumi, menjilatinya...Anna menggelinjang kegelian.

Lalu pada akhirnya Beni menurunkan tubuhnya, menatap selangkangan Anna. CD Hitamnya masih ia kenakan. Nampak tebal mengundang. Sedikit menampakkan jembut yang menyembul di pinggirannya. Jari Beni mulai menggosok CD itu, perlahan lalu mulai cepat. Anna mulai merasakan nikmat, m3meknya mulai basah. Beni menarik pinggiran Cdnya yang menutupi m3meknya, seperti menyempitkannya, lalu menariknya ke atas, membuat CDnya terjepit di antara belahan m3meknya yang kini terlihat jelas. Beni memandangi pinggiran dan permukaan belahan m3mek mamanya yang ditumbuhi jembut itu. Segera Beni menurunkan CD hitam itu, ingin melihat lebih jelas. Terpesona memandang m3mek tebal itu. Di atasnya dengan jembut hitam yang lebat, belahan m3meknya sudah agak mekar, sedikit memperlihatkan isinya yang kemerahan

Beni menunduk mendekatkan kepalanya....awalnya Anna merasa risih, dia memang mau melakukannya, maksudnya langsung saja, kalau Beni harus memainkan m3meknya dia masih sungkan...tapi sudahlah...go ahead, toh aku juga tadi mainin kont01 anak ini. Beni mulai mendekatkan mulutnya...aroma enak memenuhi rongga hidungnya.Mulutnya dengan lembut mulai menciumi jembut mamanya. Sesekali menjilatnya, agak basah jembut Anna kini. Lalu ia mulai menyapukan bibirnya naik turun pada belahan m3mek Anna. Enak sekali...diciuminya dan dijilatinya seluruh permukaan m3mek itu, akhirnya fokus ke daging sebesar kacang yang menonjol itu, lidahnya mulai menjilati dengan ganas, memainkannya dengan semangat it1l tersebut....setelah agak lama jarinya disodokkan ke lobang m3mek mamanya. Lama ia bermain di bawah sana...Oh..No...Desis Anna....gila...Beni....

”Awwww....Bennnnn....”
”Pinteeerr....kammuuuu.....Aiiihhhh......”
”Ogghhhhh.....Yessssss..........”

Anna mengejang...orgasme yang sudah agak lama ia jarang dapatkan. Beni segera menghetikan kegiatannya, menaiki tubuhnya, menindih tubuh Anna, bersiap menyodoknya...

”Ben...kamu bandel juga ya....cara kamu....sudah pernah begituan ya...nakal kamu...”
”Iya...sama teman ma...itu juga pakai kondom...”

Ya...setelah sekarang dia dan mamanya sama – sama bugil, buat apa lagi Beni sungkan atau berbohong..? Tak ada gunanya kan. Beni mulai bersiap, tapi Anna kembali berkata...sedikit ironi...

”Yang...nanti keluarin di dalam saja...toh tak bakalan jadi.”

Beni agak sedih jadinya, tapi hanya sesaat, Beni mulai menurunkan pantatnya....blesss...mantap. Beni diam sebentar...enak. jadi begini rasanya kalau tak pakai kondom...nyamannya pikir Beni.Anna menatap beni yang lagi bengong sebentar menikmati moment emasnya, tak sabaran jadinya, segera menggoyangkan pantatnya...Beni tersadar, mulai bergerak memompakan kont01nya...keluar masuk dengan konstant dalam m3mek mamanya yang terasa masih sempit dan hangat itu. Setiap gerakannya terasa nikmat, kont01nya seakan dibelai oleh cairan yang lembut dan sejuk.

Sementara tetap memompakan kont01nya, mata Beni memandang pada tetek besar mamanya yang selalu membuatnya terangsang itu, tetek itu nampak bergoyang, Beni memepercepat sodokannya, tetek itu bergoyang makin cepat. Nafsuin bangeeet, Beni segera menciumi tetek Anna dengan ganasnya. Sampai kegelian jadinya mamanya, mana hisapan Beni sangat kuat pada pentilnya, Anna mendesah erotis sekali. M3meknya mulai terbiasa dan menikmati kont01 anaknya, makin merasakan nikmatnya setiap sodokan kont01nya.

”AAAhhhh....Teruussss.....”
”Oooohh,,,,Ooohh......Yeesssss...”
”Ughh.....tekeeeenn Beeennnn......”

Anna kembali mengejang dengan kuat, Beni merasakan semburan hangat membasahi kont01nya, orgasme milik mama Anna. Dengan sedikit tergesa Beni mempercepat sodokannya, lalu mencabut kont01nya. Ditariknya tangan mamanya.

Anna segera bangkit, Beni membuat posisinya menungging, lalu Blesss...kont01 beni kembali menerobos m3meknya dari belakang. Bunyi pahanya beradu dengan Beni yang sedang menyodoknya terdengar nyaring di kamar in, menambah tinggi birahi. Beni dengan puas menyaksikan kont01nya keluar masuk, sesekali ia meremas bongkahan pantat mamanya yang sangat montok itu. Dia terus menyodok tanpa kenal lelah. Ditundukkan sedikit badannya, tangannya menjulur, meremasi tetek mamanya. Enak banget sambil nyodokin m3mek mamanya yang nungging, tangannya mainin tetek mamanya....makin nafsu saja Beni, ia menyodok makin kuat dan cepat...Anna benar – benar kelojotan...dan kembali mendapatkan orgasme...ampun dashyat juga anak ini......sementara Beni makin menggila saja, kont01nya menyodok sekuat dan sedalam mungkin...plok....plok...ahhh...desahnya...akhirny a ia merasakan....crooot....croootttt...pejunya memancar dengan kuat dan banyak, membasahi m3mek mama Anna. Terdiam dia, badannya menempel pada punggung mamanya yang sedang nungging itu. Setelah diam agak lama ia mencabut kont01nya yang masih keras.

Anna segera bangun, terasa peju yang mengalir di m3meknya. Baru saja ia mau membersihkannya, Beni sudah menariknya lembut, membaringkannya agak miring, dan Beni berbaring di sampingnya, tanpa banyak bicara mengangkat satu kaki Anna, lalu....ya ampun....langsung lagi ? Kont01 Beni kembali menyodok m3meknya, dan Beni mulai mencumbunya, Anna tanpa ragu membalas ciumannya, panas dan bergelora....Tangan anak itu kembali meremasi teteknya...Anna mendesah, tangannya merangkul kepala Beni, memeperlihatkan keteknya yang lagi – lagi segera habis dilumat oleh Beni. Sodokan kont01nya juga makin kuat, bahkan Anna merasakan kont01 Beni makin membesar saja di dalam m3meknya yang sudah sangat basah itu. Gila...bisa jebol lagi nih.....Anna memandang ke arah bawah, menyaksikan kont01 milik naknya yang sedang menerobos keluar masuk m3meknya yang sudah memerah itu...gairahnya jadi terbakar.....Beni benar – benar merasakan betpa nikmatnya m3mek mamanya ini, tak memperdulikan keringat yang mengalir, makin asik memompakan kont01nya, terkadang desahan suara mamanya terdengar, sangat erotis dan merangsang di telinganya. Dan lagi....mamanya mendapatkan orgasme, mamanya memburu bibirnya, menciuminya dengan kuat, membuat beni kehilangan kontrol sesaat. Beni masih saja memompa, saat ia merasakan bijinya dimainkan dan diremas, gilaaaaa....enak banget makin menambah nikmatnya setiap sodokan yang ia lakukan....oooohhh.....akhirnya batas Beni pun tiba, denyutan itu menandakannya....kembali ia mencium bibir mamanya...kali ini dengan hangat dan lembut....crooot...crooot....selesai. Lemas dan bahagia. Daerah selangkangan mereka berdua sudah basah dan lengket, cairan putih seperti busa nampak menempel di sekitar paha mereka. Beni segera mencabut kont01nya.

Anna terkulai lemas....ampun...kalau Beni meladeninya seperti ini, hasratnya akan selalu terpenuhi, kalau memang harus begini jalannya, ya terjadilah. Tapi tetap aku harus menjaga wibawa Dedi di mata Beni...

”Ben, rahasiakan ini dari papamu ya.”
”Iya ma. Ma, Beni nggak tahu alasan mama membuat kita melakukan ini, tapi yang pasti Beni senang dan setelah ini akan terus meminta mama, mana bisa berhenti lagi. Paling berhenti kalau ada papa.”
”Hehehe...nakal kamu, ingat, jangan nonton film kayak gitu terus, juga jangan buka situs jorok.”
”Kayaknya nggak deh...mana sempat lagi ? Kan nyodokin mama terus hehehe”

Dan dasar anak muda masih kuat, Cuma istirahat sebentar sudah nyodok lagi. Anna hanya bisa tersenyum saja. Dia dan si buah hati kini telah memasuki babak baru dalam kehidupan mereka.

Sebulan kemudian suaminya datang, setelah selesai urusan kerja sama bisnisnya. Dedi baru saja masuk. Beni lagi di kamarnya. Anna menyambutnya seperti biasa, dan melihat wajah Anna juga senyumnya yang lepas, tahulah Dedi...dia sudah melakukannya. Dedi tersenyum saja. Itu sudah jalannya, biarlah Anna juga berhak meraih impiannya. Kehidupan terus berjalan, akhirnya Teti hamil, kini sudah bulan ke 5, Dedi bagaikan di awang – awang, makin jarang datang aja ke Anna, tapi Anna tak pernah mengeluh lagi......Dan memang Anna tak butuh mengeluh lagi, buat apa...selalu ada Beni anak kesayangannya, buah hatinya, juga pelepas dahaganya......
TAMAT

ibu yulia

Mmmfff…enak kan Mbak ….nnghhh…” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan jari tangannya keluar masuk lubang memek wanita berjilbab lebar ini dengan napas terengah-engah. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Yulia, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita berjilbab lebar yang alim ini menggigit bibirnya.
Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini kembali menyusup ke balik baju panjangnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka..

Yulia adalah seorang ibu rumah tangga bermuka cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 25 tahun. Wanita cantik ini terlihat alim dengan jilbab lebar serta jubah panjang dan kaus kaki sebagai ciri Muslimah yang taat, apabila dia keluar rumah atau bertemu laki-laki yang bukan mahromnya. Dalam kehidupan seharinya wanita berjilbab ini bekerja sebagai karyawan counter HP yang cukup ternama di Karanganyar. Karena kesibukannya mengurus rumah tangganya, maka Yulia memohon agar ditempatkan di tawangmangu yang notabene dekat dengan rumahnya. Dalam counter TZN ditawangmangu tersebut hanya dikelola oleh Yulia dan 2 orang laki-laki rekan kerjanya.

Pagi hari sekitar pukul 8.00 pagi, suasana counter TZN ditawangmangu sangat sepi, tidak seperti hari biasanya banyak yang beli pulsa atau transaksi jual beli HP. Dengan jilbab putih yang lebar warna putih, serta pakaian panjang sampai diatas lutut berwarna biru dipadu dengan celana panjang warna hitam serta kaus kaki berwarna krem membuat Yulia tampak sangat cantik dan alim. Kebetulan hari itu Yulia tidak memakai jubah yang biasa dikenakannya. Yulia duduk dibelakang etalase bersama teman laki-lakinya yang bernama Ronny karena kebetulan hari itu jatahnya temannya yang bernama nanang libur. Ronny sudah beristri yang juga berjilbab yangditempatkan di TZN pusat di karanganyar.
Pagi itu suasana counter TZN tawangmangu memang sangat sepi. Belum ada satupun pelanggan yang beli pulsa atau sekedar melihat-lihat HP baru.

Sebentar kemudian Nampak mendung tebal bergayut diatas kota kecamatan yang terletak dilereng lawu tersebut. Jarum jam menunjukkan jam 8.30 pagi, tiba-tiba saja terlihat kilat disertai Guntur kemudian disusul hujan yang lebat. Air hujan bagai tercurah dari langit diatas bumi tawangmangu. Suasana tersebut menambah sepi suasana counter tersebut, karena jam segitu adalah jam kerja dan jam sekolah. Sementara orang yang tidak beraktifitasmenjadi malas keluar karena hujan deras.

Tak sengaja Yulia menoleh kesamping, Ups..hati Yulia tergetar ketika menyadari Ronny ternyata juga sedang memperhatikanya.Laki-laki tersebut terlihat gugup ketika mata Yulia memergokinya. Segera aja dia membuang muka, di mata Yulia Ronny terlihat cukup baik dan santun, usianya mungkin sekitar 29 tahunan. Yulia hanya tersenyum melihat kegugupannya.

“Malah hujan mas?’ Yulia mengawali pembicaraan.
Ronny menoleh dan tersenyum,lantas mengangguk. Entah mengapa kemudian Yulia menjadi sangat akrab dengan teman kerjanya tersebut,padahal Yulia bukan seorang wanita yang mudah akrab dengan laki-laki lain.

Dalam perbincangan itu,entah mengapa diam-diam Yulia membandingkan Ronny dengan suaminya. Yulia melihat badannya lebih tinggi dibanding dengan suaminya, Ronny lebih atletis dan tegap. Dengan dada berdesir,Yulia akhirnya menyadari kalau muka Ronny mirip sekali dengan suaminya. Wanita berusia 25 tahun ini bagaikan lupa keadaan dirinya ketika berbincang kian akrab dengan Ronny. Ketika berulangkali laki – laki ini memuji kecantikan mukanya, Yulia menjadi salah tingkah. Ibu rumah tangga yang aktif ikut pengajian salah satu ormas besar disolo ini merasa tersanjung dengan pujian laki-laki tersebut.
“Ah mas Ronny..”desis Yulia dengan muka terasa panas mendengar pujian itu walaupun dalam hati Yulia merasa senang.
“Bener kok mbak..mbak begitu cantik, manis apalagi pakai jilbab seperti ini,jadi kian anggun beruntung deh yang jadi suami Mbak..”kata Ronny seraya lekat memandang muka wanita berjilbab lebar ini.

“Aihh..mas Ronny..udah..udah”seru Yulia gemas,dan tanpa sadar jemari wanita berjilbab ini mencubit lengannya yang membuat Ronny meringis.
Namun sesaat Yulia kemudian tersadar,kalau dia adalah seorang wanita bersuami, apalagi dia adalah seorang wanita muslimah yang mengenakan jilbab. Muka Yulia terasa memanas ketika wanita berjilbab ini melihat Ronny tersenyum-senyum setelah dicubit.
“Jari mbak Yulia…halus..lentik..”desisnya sambil tersenyum, namun ibu muda satu anak ini tak lagi menanggapinya. Yulia mulai merasa dia mendapat pengaruh aneh dari laki – laki di sampingya itu, sehingga dia begitu mudahnya akrab dengannya, atau mungkin kemiripan muka Ronny dengan suaminya yang membuat Yulia bagaikan hanyut.

Pukul 9.30 pagi menjelang siang, suasana counter HP TZN dan sekitarnya semakin sepi. Hujan begitu deras di luar counter menimbulkan suara deru yang cukup keras. Wanita berjilbab ini melihat jalan raya tawangmangu yang menjadi sepi kecuali mobil yang berseliweran. Yulia melirik ke sebelah, Yulia kembali terhanyut muka rekan kerjanya yang mirip sekali dengan suaminya. Baru sejenak pikiran Yulia menerawang, mendadak wanita berjilbab ini dikejutkan oleh elusan yang merayap di pahanya. Yulia bagai tersengat arus listrik karena terkejutnya, namun sedetik kemudian Wanita berjilbab lebar ini membeku bagaikan menjadi patung es, ketika menyadari tangan yang merayap dipahanya adalah tangan laki – laki di sampingnya. Badan wanita muda ini menjadi kejang ketika tangan kanan Ronny mengelus perlahan pahanya yang masih tertutup baju dan celana panjang warna hitam yang dikenakannya. Entah kenapa, Yulia hanya mampu menggigit bibir ketika tangan Ronny mulai nakal melepas kancing baju yang dikenakannya pada bagian dada, ,sehingga beberapa kancing baju yang dikenakan ibu muda berjilbab inipun terlepas bagian dadanya.

Badan Yulia kian menggigil,ketika tangan Ronny mulai menyusup di balik baju yang kenakannya. Perlahan wanita berjilbab ini merasakan tangan laki – laki itu mengelus dan meremas buah dadanya beberapa kali. Lantas wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan laki – laki ini baju bagian bawahnya kemudian bergerak mengelus bagian bawah perutnya. Sesaat kemudian kedua tangan Ronny membuka pengait celana panjang yang dikenakan oleh Yulia dan membuka restling celananya sekaligus kemudian mulai mengelus elus bagian selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam warna putih.

Ingin rasanya Yulia menepis tangan laki-laki kurang ajar yang tengah menggerayangi daerah terlarang miliknya itu,namun entah mengapa semuanya terasa beku, badannya hanya mampu menggigil menahan birahi ketika tangan Ronny mengelus-elus selangkangannya yang masih terbungkus celana dalam hingga ke duburnya..beberapa kali Yulia merasakan kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam itu dielus- elus tangan Ronny dan diremas-remasnya lembut.Tanpa sadar Yulia justru membuka kedua pahanya kian lebar sehingga tangan Ronny kian leluasa menggerayangi kemaluannya beberapa saat.
Yulia mulai mendesah perlahan, ketika tangan Ronny terasa menyusup ke balik celana dalam yang dikenakannya lantas menarik-narik rambut kemaluannya yang tumbuh lebat tak tercukur. Jemari tangan Ronny menyusuri gundukan bukit kemaluan wanita berjilbab ini kian ke bawah hingga sampai celah lubang memeknya. Wanita berjilbab lebar ini nyaris histeris menahan nikmat ketika bibir lubang memeknya itu diusap pelan oleh jemari tangan Ronny. Rasa birahi ternyata telah membutakan kenyataan bahwa tangan laki-laki yang tengah menyentuh kemaluannya bukanlah suaminya.

Yulia mulai menggelinjang saat jemari tangan Ronny mengelus-elus perlahan bibir kemaluannya beberapa
saat lantas wanita berjilbab ini merasakan bibir kemaluannya itu dibuka dan jemari tangan Ronny pun segera melesak ke dalam lubang memek yang telah mengeluarkan satu orang anak tersebut. Badan Yulia gemetaran dan mulutnya mendesah saat kemudian kelentit dalam kemaluannya disentuh oleh jemari tangan Ronny lantas dipilinnya lembut membuat wanita berjilbab lebar ini nyaris terlonjak dari tempat duduknya.
“Ohh..aahhhh…mmhhh…enghhh..sshhh”‘desah Yulia lirih dengan badan menggelinjang, menahan nikmat di daerah selangkangannya.
Yulia tak lagi menghiraukan keadaan counter yang pintunya terbuka lebar apabila tiba-tiba ada pelanggan yang masuk. Yang dirasakan wanita berjilbab lebar ini adalah kenikmatan yang menjalar ke
sekujur badannya, oleh jemari tangan Ronny di lubang memeknya.
“Ahh..sshh…mas Ronnya..jangaaan”rintih Yulia lirih namun terasa nikmat luar biasa.
Badannya menggelinjang di kursi counter yang kecil tersebut. Untunglah hujan begitu deras, sehingga desahan dan rintihan wanita berjilbab ini tertelan gemuruh oleh hujan di luar.
Sembari menggeliat menahan kenikmatan yang dirasakannnya, mata Yulia
melirik ke muka Ronny. Namun betapa terkejutnya Yulia ketika melihat ternyata laki – laki ini sedang tersenyum-senyum memandangnya penuh birahi dengan nafas yang memburu.

“Mas Ronny!!”pekik Yulia lirih karena kaget.
”jangaan..ohhh..mas Ronny..jangaan” Namun Ronny tak menghiraukan pekikan wanita berjilbab lebar ini. Wanita ini merasakan jari-jari tangan Ronny kian dalam memasuki lubang memeknya. Yulia menjadi semakin kian gila,ketika dirasakannya jari-jari tangan Ronny menyentuh dinding lubang memeknya itu. Rasa nikmat yang luar biasa terasa di sekujur badan Wanita berjilbab lebar ini yang membuatnya kian tersengal. Yulia merasakan bagian terlarangnya kian berdenyut- denyut seiring gerakan pinggulnya yang menggeliat penuh nikmat.

“ohh ..jangaaaan… jangaan..mas…”desah Yulia lirih.
Wanita berjilbab lebar ini masih menyadari bahwa dia berada di counter yang pintunya terbuka lebar sehingga Yulia khawatir jika tiba-tiba ada pelanggan yang masuk meskipun diluar hujan justru bertambah deras. Namun derasnya hujan dan posisi tempat duduk mereka yang tertutup oleh etalase HP , membuat kekurang ajaran Ronny ini leluasa dinikmatinya. Wanita berjilbab lebar ini hanya pasrah dalam kenikmatan, ketika bagian terlarangnya itu diobok-obok Ronny dengan tangannya. Mata wanita berjilbab ini merem melek menahan kenikmatan yang luar biasa pada kemaluannya itu. Hanya desahan lirih penuh nikmat dan gelinjangan badan yang kian liar di atas kursi kecil dalam counter tersebut, Yulia hampir mencapai puncak kenikmatannya , ketika mendadak sebuah sepeda motor yang parkir didepan counterTZN. Kemudian Nampak seorang pemuda melepas jas hujan kemudian masuk kedalam counter nya.
“monggo mas…” ujar Yulia dalam bahasa jawa ketika pemuda tersebut masuk kedalam counter.
Sementara Ronny bergeser ke belakang lemari kasir yang tertutup kaca tinggi, membersihkan jari tangannya yang penuh lendir kewanitaan Yulia setelah hampir 30 menit lebih mengobok obok kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut.

“Pulsa mbak, XL 5000” Jawab pemuda tersebut sambil memandang aneh muka Yulia karena masih membayang diraut muka wanita berjilbab lebar ini seperti habis menahan perasaan sesuatu.
“oh ya ini silahkan ditulis nomornya mas” Balas Yulia sambil meraih HP server pengisi pulsa.
Beberapa saat kemudian pemuda tersebut minta diri setelah membayar pulsa yang dibelinya , sementara hujan diluar masih tercurah dari langit justru semakin deras. Bahkan beberapa saat kemudian jalan raya tawangmangu tersebut tergenang oleh banjir akibat curah hujan yang cukup deras. Yulia berniat untuk duduk dikursi semula ketika tiba-tiba kedua tangan Ronny melingkar dipinggang wanita berjilbab lebar ini.
“Udah mas… malu nanti jika ada pembeli masuk secara tiba-tiba” Ujar Yulia sembari tangannya mencoba melepas tangan Ronny yang melingkari pinggangnya.
“Gak usah khawatir mbak, hujannya tambah deras kok. Orang males akan keluar, mending kita menikmati hari ini dengan puas mumpung ada kesempatan mbak” Balas Ronny sambil menarik badan Yulia agak ke belakang etalase.
“mas … jangaan” desah Yulia ketika Ronny mengajaknya duduk dilantai bawah yang beralaskan karpet warna hijau.

Yulia pun akhirnya menyerah ketika Ronny membantunya duduk dengan kedua kaki diselonjorkan dengan posisi mengangkang sedikit ditekuk pada lututnya sementara kepala dan badan Yulia bersandar pada etalase yang agak tinggi.. Ronny kemudian menarik celana panjang yang dikenakan Yulia hingga terlepas, sehingga kelihatan kemaluan yang masih tertutup celana dalam serta paha mulus dan kaki wanita berjilbab lebar ini.
“Aih .. masss..jangann ..!!”jerit Yulia spontan ketika celana panjangnya dilepas oleh Ronny. Badan Yulia menggigil melihat rekan kerjanya tersebut mulai mengelus-elus kemaluannya yang terbungkus celana dalam.
“mas.. bagaimana nanti jika ada yang datang..malu…” Desah wanita berjilbab lebar ini ketika menyaksikan tangan Ronny melepas celana dalamnya. Beberapa saat kemudian Ronny tersenyum lebar menyaksikan kemaluan rekan kerja wanitanya yang berjilbab tersebut terpampang bebas memamerkan bulu-bulu kemaluannya yang lebat.

Ronny kemudian menggeser duduknya bersandar lemari kasir yang besar dan tinggi, kemudian menarik badan Yulia yang sudah telanjang bagian bawahnya. Diletakkannya badan Yulia disela kedua kakinya yang terjulur terbuka, sehingga pantat Yulia melekat pada selangkangan Ronny. Yulia pun pasrah apa yang dilakukan oleh rekan kerjanya tersebut, disandarkan kepalanya di dada Ronny sementara tangannya bertumpu pada paha Ronny yang mengangkangi pantatnya.
“Mas…” desah Yulia ketika sesaat kemudian,Badan ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika kemudian dia merasakan, tangan kiri Ronny itu menyusup ke balik jilbab lebarnya,meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup BH. Lantas salah satu tangan Ronny turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya yang telah terbuka.

“Jangaan.. mas Ronnya..”desah Yulia dengan cemas dan khawatir jika ada pembeli yang datang. Namun laki- laki ini tak perduli, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 25 tahun ini. Yulia menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan
suaminya ini dalam posisi duduk membelakangi laki-laki itu.

“Jangaan.. mas Ronnya….sebentar lagi hujan reda..” desah Yulia masih dengan muka cemas.
Ronny terpengaruh dengan kata-kata Yulia, diliriknya suasana didepan counter. Memang hujan mulai surut tidak sederas satu setengah jam yang lalu. Yulia menggigil dengan badan kejang ketika kemudian wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan lelaki rekan kerjanya itu semakin dalam mengobok obok lubang memeknya. selama ini memang Ronny selalu melihat Yulia dalam keadaan memakai pakaian panjang tertutup rapat dan jilbab yang lebar, namun Ronny dapat membayangkan kesintalan badan wanita ini melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan kemontokan pantatnya yang terlihat. Ronny tidak menyangka kalau bagian badan Yulia yang selama ini tersembunyi, pagi ini dapat dinikmatinya. Celana panjang dan celana dalam yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di disamping etalase. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya yang cukup lebat. Ronny kagum melihat kemaluan Yulia yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.

“Jangaan..mass..hentikaaan… “ pinta Yulia dengan suara bergetar menahan nikmat , ketika wanita alim ini merasakan tangan Ronny meremas-remas bongkahan pantatnya yang telanjang. Mulut Yulia mulai merintih dan badan ibu muda berjilbab ini mengejang ketika wanita ini merasakan tangan kanan rekan kerjanya tersebut mengelus-elus dan menelusuri celah di pangkal pahanya. Dengan bernafsu Ronny menguakkan bibir kemaluan Yulia yang berwarna merah jambu dan lembab. Badan wanita berjilbab lebar ini mengejang hebat saat tangan kanan lelaki itu menyeruak ke lubang memeknya. Badannya bergetar ketika jari tangan laki-laki tersebut menyentuh klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 25 tahun ini tak kuasa menahan erangannya ketika tangan lelaki itu menyentuh dan mengorek-orek klitorisnya,dan menit-menit selanjutnya Yulia semakin mengerang jalang .

“Hmmm…, bagaimana Mbak Yulia….enak kan..” kata Ronny itu sambil terus menusuk-nusukkan jarinya kedalam kemaluan wanita berjilbab lebar rekan kerjanya tersebut.

“Mmmfff…enak kan Mbak ….nnghhh…” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan jari tangannya keluar masuk lubang memek wanita berjilbab lebar ini dengan napas terengah-engah. Tangan kiri lelaki itu membekap pangkal paha Yulia, lalu jari tengahnya mulai menekan klitoris ibu muda berjilbab itu lantas dipilinnya dengan lembut, membuat wanita berjilbab lebar yang alim ini menggigit bibirnya.
Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini kembali menyusup ke balik baju panjangnya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka.

“Ayo Mbak Yulia….ahhhh… …nikmati…oohhhh….nikmat sekali kan….?” Ronny terus menggerakkan jari tangannya yang terjepit lubang memek wanita muda yang alim ini.
Yulia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba melawan terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa nikmat dan malu. Tapi ia tak mampu, Yulia mendesah dan mengerang dengan badan menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab lebar ini menjerit tertahan saat ia meraih puncak kenikmatan, sesuatu yang cair kental menyembur keluar dari dalam rahimnya sehingga meleleh melalui lubang memeknya dan menetesi karpet dibawahnya.Badan Yulia langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya terus mengaduk lubang memeknya dengan jari tangannya. Yulia kembali mendesah, saat perlahan Ronny menarik keluar jari tangannya yang digunakan mengobok-obok kemaluan wanita berjilbab lebar ini.

Sesaat kemudian Ronny berdiri dan berjalan keluar untuk melihat suasana, ternyata hujan kembali deras mengguyur tawangmangu. Jalanan masih banjir , sementara jam menunjukkan pukul 11.45.
“Mbak kita istirahat bentar, kemudian makan trus sholat kemudian nanti kita lanjutkan lagi. Mumpung sepi dan hujan deras mbak, jadi gak ada yang mengganggu.” Ujar Ronny sambil tersenyum.
“Lanjutkan apa mas…?” Tanya Yulia tergagap
“He..he… saya kan belum merasakan nikmatnya kemaluan saya menyodok kemaluanmu mbak, tanggung mbak mumpung ada kesempatan…” kata Ronny sambil meremas remas buah dada Yulia, sementara Yulia menjadi bingung.

“Nanti kita melakukannya di kamar belakang itu aja mbak..” kata Ronny sambil menunjuk kamar kecil dibelakang etalase yang hanya muat untuk tidur 2 orang tersebut. Kamar tersebut sebenarnya digunakan untuk sholat dan tidur nanang dimalam hari jika tidak libur.

Yulia pun hanya bisa pasrah, sesaat kemudian Yulia keluar counter seperti biasa untuk beli makan siang para pegawai counter. Sementara Yulia pergi, Ronny segera menyiapkan minuman yang sudah ditaburi obat perangsang sex. Sepuluh menit kemudian Yulia kembali ke counter membawa 2 bungkus nasi. Mereka berdua pun segera makan, kemudian bergantian sholat dzuhur.

Hujan masih turun justru semakin deras seolah memberi kesempatan laki laki dan ibu muda berjilbab tersebut untuk melanjutkan perselingkuhan. Setelah sholat Ronny menengok keluar memastikan suasana aman dan mendukung, karena Ronny berniat menikmati badan montok rekan kerjanya tersebut sampai puas. Setelah merasa aman Ronny masuk dan melihat Yulia sedang menghitung stok vhoucer, tanpa berkata sepatah katapun Ronny langsung memeluk Yulia dari belakang.
Badan ibu muda berjilbab yang alim ini mengejang ketika kemudian dia merasakan,kedua tangan Ronny itu menyusup ke balik jilbab lebarnya,meremas-remas lembut kedua payudaranya yang tertutup baju
dan bra. Lantas salah satu tangan lalu turun ke arah selangkangannya, meremas-remas kemaluannya dari luar baju panjang yang dipakainya.

“Masss.. ahh,,hh..”desah Yulia sambil menghentikan pekerjaannya menghitung stok voucher.
Ronny tersenyum, kedua tangannya kian bernafsu meremas-remas buah dada serta selangkangan wanita alim berusia 25 tahun ini. Yulia menggeliat-geliat menerima remasan laki-laki yang bukan
suaminya ini dalam posisi berdiri membelakangi laki-laki itu.

“Aahhh.. enghh….mmhh.. .ohhh” desah Yulia merasakan kenikmatan pada kemaluan dan buah dadanya .
Ronny berlutut di belakang pantat Yulia, sementara kedua tangan Yulia berpegangan pada lemari khusus kasir tersebut. Yulia menggigil dengan badan kejang ketika kemudian wanita berjilbab lebar ini merasakan tangan lelaki rekan kerjanya itu menarik turun celana panjang sekaligus celana dalamnya. Badan Yulia gemetar oleh rasa malu dan nikmat ketika tanpa diduganya, Ronny menyingkap bagian bawah baju birunya ke atas sampai ke pinggang. Ibu muda berjilbab lebar ini terpekik dengan muka yang merah padam ketika menyadari bagian bawah badannya kini telanjang bulat karena dirinya sudah tidak memakai celana dalam lagi. Ronny kembali merasa takjub melihat istri rekan kerjanya ini dalam keadaan telanjang bagian bawah badannya. Sungguh, laki-laki ini tidak pernah menyangka kalau sore ini akan melihat kemulusan badan Yulia yang selalu dilihatnya dalam keadaan berpakaian rapat. Pertama kali Ronny melihat Yulia, laki-laki ini memang sudah tergetar dengan kecantikan muka wanita berkulit putih ini walaupun sebenarnya Ronny juga sudah beristri, tapi apabila dibandingkan
dengan Yulia muka istrinya tidak ada apa-apanya.

Namun kealiman wanita yang selalu berpakaian rapat tertutup dengan jilbab yang lebar membuatnya merasa segan juga disamping Yulia adalah istri teman
pemilik TZN. Tetapi seringkalinya dia bertemu membuat Ronny semakin terpikat dengan kecantikan
wanita berjilbab lebar ini. selama ini memang Ronny selalu melihat Yulia dalam keadaan memakai pakaian panjang dan jilbab yang lebar, namun Ronny dapat membayangkan kesintalan badan wanita ini
melalui tonjolan kemontokan buah dadanya dan kemontokan pantatnya yang terlihat. Ronny tidak menyangka kalau bagian badan Yulia yang selama ini tersembunyi, hari ini dapat dinikmatinya.
Muka Yulia merah padam ketika diliriknya, mata Ronny masih melotot melihatnya yang setengah telanjang. Celana dalam dan celana panjang yang dipakai wanita berjilbab ini kini teronggok di bawah
kakinya setelah ditarik turun oleh Ronny. Bentuk pinggul dan pantat wanita alim yang sintal ini sangat jelas terlihat oleh Ronny. Belahan pantat Yulia yang telanjang terlihat sangat bulat, padat serta
putih mulus tak bercacat membuat birahi laki-laki yang telah menggelegak sedari tadi kian menggelegak. Diantara belahan pantat Yulia terlihat belahan bibir kemaluan wanita rekan kerjanya yang kemerahan terlihat menggiurkan.

“Mbak Yulia..Kakimu direnggangkan. Aku ingin melihat memekmu lagi …” desis Ronny sambil berjongkok menahan birahinya melihat bagian kehormatan wanita rekan kerjanya.
Wanita berjilbab lebar ini pasrah, ia merenggangkan kakinya. Dari bawah, lelaki itu menyaksikan pemandangan indah menakjubkan. Di pangkal paha wanita berjilbab ini tumbuh rambut kemaluannya yang cukup lebat namun terlihat rapi. Ronny kagum melihat kemaluan Yulia yang begitu montok dan indah, beda sekali dengan kemaluan istrinya.

“Masss..ohhh..emmmhh…sudah mas… “ pinta Yulia dengan suara bergetar menahan nikmat, ketika wanita alim ini merasakan tangan Ronny meremas-remas bongkahan pantatnya yang telanjang.
Namun Ronny seolah tak mendengarnya justru tangan lelaki itu menguakkan bongkahan pantat Yulia lantas mendekatkan mukanya menciumi pantat mulus yang montok itu. Yulia menggeliat ketika lidah Ronny mulai menyentuh anusnya. Mulut Yulia mulai merintih dan badan ibu muda berjilbab ini
mengejang ketika wanita ini merasakan lidah lelaki itu menyusuri belahan pantatnya lantas menyusuri celah di pangkal pahanya. Dengan bernafsu Ronny menguakkan bibir kemaluan Yulia yang berwarna merah jambu dan lembab. Badan wanita berjilbab lebar ini mengejang hebat saat lidah lelaki
itu menyeruak ke lubang memeknya. Badannya bergetar ketika lidah itu menyapu klitorisnya. Semakin lama wanita berjilbab berusia 25 tahun ini tak kuasa menahan erangannya ketika bibir lelaki itu mengatup dan menyedot-nyedot klitorisnya, dan menit-menit selanjutnya Yulia semkin mengerang jalang oleh birahi ketika Ronny seakan mengunyah- ngunyah kemaluannya. Seumur hidupnya, Yulia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh suaminya.
“Hmmm…, nikmat sekali kan Mbak Yulia….?” kata Ronny sambil berdiri setelah puas menyantap kemaluan istri wanita berjilbab lebar tersebut. Sementara itu tangan kirinya terus mengucek-ngucek kelamin wanita berjilbab lebar tersebut.

“Aihhhh…eungghhhh….” Yulia mengerang dengan mata mendelik, ketika beberapa saat kemudian sesuatu yang besar,panjang dan hangat mulai menusuk kemaluannya melalui belakang.
Badan wanita berjilbab ini mengejang ketika menyadari kemaluannya tengah dimasuki ****** Ronny sementara wanita berjilbab lebar ini hanya bisa pasrah. Hingga sekejap kemudian Yulia merasakan batang ****** Ronny yang jauh lebih besar dan panjang di banding milik suaminya, telah bersarang di lubang memeknya hingga menyentuh rahimnya. Badan Yulia hanya mampu menggelinjang ketika Ronny mulai menggerakan kontolnya dalam jepitan kemaluannya.

“Mmmfff…enak juga bersebadan sambil berdiri….nnghhh…oohhh ” kata Ronny di belakangnya sambil menggerakkan pinggangnya maju mundur dengan napas terengah-engah.
Yulia dapat merasakan ****** Ronny yang kini tengah menusuk-nusuk lubang memeknya, jauh lebih besar dan panjang dibanding ****** suaminya. Yulia tak kuasa menahan sensasi yang menekan dari dasar
kesadarannya.Wanita berjilbab lebar ini mulai mendesah, apalagi tangan kanan lelaki itu kini menyusup ke balik bajunya, lalu ke balik cup BH-nya dan memilin-milin puting susunya yang peka.

“Ayo Mbak Yulia….ahhhh… …nikmati…ahh….nikmati….” Ronny itu terus memaju mundurkan kontolnya yang terjepit lubang memek wanita muda yang alim ini. Yulia memejamkan matanya, menikmati terpaan kenikmatan di tengah tekanan rasa nikmat dan malu. Yulia mendesah dan mengerang dengan badan menggelinjang jalang dan akhirnya dalam waktu beberapa menit kemudian wanita berjilbab lebar
ini menjerit saat ia meraih puncak kenikmatan. Badan Yulia langsung lunglai, tapi lelaki di belakangnya
selangkah lagi sampai ke puncak. Ronny terus mengaduk lubang memek Yulia dengan kecepatan penuh. Lalu, dengan geraman panjang, ia menusukkan kontolnya sejauh mungkin ke dalam kemaluan ibu muda berjilbab ini. Kedua tangannya mencengkeram payudara Yulia yang padat dan montok dengan
kuat. Sesaat kemudian Ronny menyingkap dan melepas semua kancing baju yang dikenakan Yulia hingga terlihat bra yang dikenakan Yulia, kemudian kembali diremas-remasnya buah dada yang ranum tersebut hingga Yulia meintih-rintih dan mendesah.
“Ohhh …mmhhh …enghhh”desah Yulia ketika sekali cairan kemaluannya menyembur menyiram ****** Ronny yang sedang mengaduk aduk kemaluannya.

Yulia yang masih dibuai gelombang kenikmatan, kembali merasakan sensasi aneh saat bagian dalam lubang memeknya gantian disembur cairan hangat mani dari ****** Ronny yang terasa banyak membanjiri lubang lubang memeknya. Yulia kembali merintih, saat perlahan Ronny menarik keluar kontolnya yang lunglai.
Sementara hujan diluar turun semakin deras disertai dengan Guntur.
Rupanya Ronny belum puas setelah menyebadani badan montok wanita berjilbab lebar yang menjadi rekan kerjanya tersebut. Sesaat kemudian Ronny meremas remas buah dada Yulia yang menegang seperti dua buah gunung kembar.

“mas sudah mas… aku lelah banget” pinta Yulia sambil menoleh kebelakang
“satu ronde lagi aja mbak… tanggung nih..” kata Ronny sambil meremas buah dada wanita berjilbab lebar tersebut. Kemudian sambil terus meremas remas buah dada Yulia dari belakang, Ronny mengajak Yulia berjalan ke kamar belakang tanpa memperhatikan celana panjang dan celana dalam milik Yulia yang masih teronggok di samping lemari kasir. Setelah sampai di kamar belakang etalase tersebut, Ronny menelentangkan Yulia dalam keadaan hanya memakai jilbab lebar warna putih dan baju panjang warna biru yang sudah terbuka hampir semua kancing bajunya. Sekejap kemudian tangan Ronny terulur kembali meremas-remas kedua susu mengkal milik wanita berjilbab lebar tersebut.

Tanpa membuang waktu Ronny kemudian melucuti baju panjang dan BH yang dipakai Yulia sekaligus. Mata Ronny melotot buas ketika memperhatikan lubang memek Yulia yang tampak membukit. Gundukan di tengah selangkangan yang tampak menonjol membuat ****** Ronny terasa kian keras menegang oleh birahi dan Ronny tak tahan mengulurkan tangannya meremas-remas bukit kemaluan yang montok milik Yulia. Yulia tersentak ketika tangan Ronny meremas-remas bagian selangkangannya yang masih berlepotan cairan kewanitaannya, namun pengaruh obat perangsang sex yang diminumnya membuat wanita berjilbab lebar ini hanya bisa mendesah.

Badan ibu muda yang alim ini hanya menggeliat-geliat saat selangkangannya diremas remas oleh tangan Ronny tanpa jemu. Mulutnya mendesah-desah dengan ekspresi yang membuat libido Ronny kembali semakin terangsang. Ronny terkekeh melihat gelinjangan ibu muda berjilbab yang alim ini saat bagian selangkangannya diremas remas-remas. Puas meremas-remas tonjolan bukit kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut, mata Ronny kembali memandang wanita berjilbab lebar ini yang terlentang di atas kasur ini dari ujung
kepalanya yang masih terbalut jilbab hingga ke kakinya.

Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan dan muncul sebuah sensasi sendiri saat Ronny berhasil melihat bagain kemaluan wanita berjilbab lebar yang cantik seperti Yulia. Tangan Ronny memang telah merasakan kekenyalan bukit kemaluan Yulia, saat meremas-remas sebelumnya.
Tetapi ketika melihat bentuknya pada saat terlentang dalam keadaan telanjang ternyata sangat merangsang birahi. Ronny memperhatikan muka Yulia yang terlentang di depannya, muka ayu berbalut jilbab lebar itu terlihat semakin ayu menggemaskan.

Muka wanita berjilbab lebar tersebut memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah terlanda birahi. Ronny menyeringai sejenak sebelum kemudian membenamkan mukanya di tengah
selangkangan Yulia yang terasa hangat. Hidungnya mencium bau kewanitaan Yulia yang segar dan wangi, jauh sekali perbedaannya dibanding bau kewanitaan istrinya. Ronny semakin mendekatkan mukanya ke
arah bukit kemaluan Yulia, bahkan hidungnya telah menyentuh kelentit pada kemaluan Yulia. Dengan nafas yang terengah-engah menahan birahi, lidahnya terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut. Saat lidahnya mulai menyapu kelentit Yulia, tiba-tiba pinggul wanita berjilbab ini menggelinjang dibarengi desahan ibu muda berjilbab ini.

“Ahh…ahhhhh..ahhh”desah Yulia yang membuat libido Ronny semakin menggelegak.
Ronny semakin bernafsu menjilati dan menciumi bukit kemaluan Yulia yang semakin becek oleh cairan kemaluannya. Setiap kali lidahnya menyapu permukaan kemaluan Yulia atau bibir Ronny menciumnya dengan penuh nafsu, wanita berjilbab berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah- desah penuh birahi. Lidah dan bibir Ronny seakan berebut merambah sekujur permukaan bukit kemaluan Yulia .
“Ouhhhh….Mbak Yulia……”desis Ronny melihat gundukan bukit kemaluan Yulia yang kini tak lagi tertutup celana dalam tersebut.

Bibir kemaluan Yulia terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya.
Bulu-bulu kemaluan yang lebat, tampak kontras dengan putihnya bukit kemaluan wanita berjilbab tersebut. Ronny melihat kemaluan Yulia sudah basah oleh rangsangan sebelumnya, bahkan ketika Ronny menguakkan bibir kemaluan wanita PKS ini cairan kenikmatan nya jatuh menetes membasahi kasur. Ronny menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan birahi yang kian menggelegak lidah Ronny menyapu kemaluan telanjang di antara paha wanita alim ini. Ronny merasa paha Yulia bergetar lembut ketika lidahnya mulai menjalar mendekati selangkangan wanita berjilbab lebar ini. Yulia menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah Ronny sampai di pinggir bibir kemaluannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Ronny menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah becek kemaluan yang
memang telah basah itu.

Terengah-engah Yulia mencengkeram kasur menahan nikmat yang tiada tara. Yulia menggelinjang hebat ketika lidah dan bibir Ronny menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita berjilbab ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Ronny terjulur masuk menjilati bagian dalam kemaluannya. Bahkan ketika lidah Ronny menyapu kelentit Yulia yang telah mengeras itu, kemudian di teruskan dengan menghisapnya dengan lembut Yulia merintih hebat. Badannya mengejang sampai punggungya melengkung bagaikan busur panah membuat dadanya yang montok membusung.

“Ahhhhh….ahhhhhh….ahhhhh”rintih Mbak Yulia dengan jalangnya disertai badan yang menggelinjang.
Kembali cairan kenikmatan membasahi kemaluan wanita berjilbab ini, hal ini lidah dan bibir Ronny makin liar menjilati di daerah paling pribadi milik Yulia yang kini sudah membengkak kemerahan. Gundukan kemaluan yang putih kemerah- merahan itu menjadi berkilat-kilat basah dan bulu-bulu kemaluan wanita berjilbab ini pun menjadi basuh kuyup oleh jilatan Ronny. Lidah Ronny menyusuri belahan kemaluan yang telah membengkak lantas ke sekujur permukaan kemaluan yang membukit
montok hingga ke sela-sela kedua pahanya, kemudian menyusuri ke bawah hingga ke belahan pantat yang tampak montok.

Ronny menjadi semakin gemas melihat belahan pantat Yulia yang terlihat sebagian, sehingga dengan bernafsu Ronny membalikkan badan wanita berjilbab yang terlentang menjadi tengkurap. Mata Ronny melotot liar melihat pemandangan indah setelah wanita berjilbab lebar tersebut tengkurap. Pantat wanita berjilbab yang montok dan telanjang tampak menggunung menggiurkan. Ronny terengah penuh birahi memandang kemontokan pantat bundar
Yulia yang putih mulus itu. Dengan gemas Ronny meremas-remas bukit pantat wanita alim tersebut dengan tangan lantas Ronny mendekatkan mukanya pada belahan pantat wanita berjilbab tersebut . Lidahnya terjulur menyentuh belahan pantatnya kemudian dengan bernafsu Ronny mulai menjilati belahan pantatnya yang putih mulus tersebut. Yulia mendesah-desah dengan badan menggelinjang
menahan birahinya, saat lidah Ronny menyusuri belahan pantatnya hingga belahan kemaluannya yang kemerahan. Belahan pantat mulus Yulia yang putih dalam sekejap menjadi basah berkilat oleh jilatan lidah Ronny.

Kemudian bibir dan lidah Ronny secara bergantian menyusuri sekujur pantat montok wanita berjilbab tersebut. Tangannya juga menguak belahan pantat ibu muda tersebut dan selanjutnya lidahnya menyapu daerah anus dan sekitarnya yang membuat wanita berjilbab lebar tersebut mengerang penuh birahi. Puas menikmati pantat Yulia yang montok, Ronny kembali menelentangkan ibu muda berjilbab lebar ini. Mata Ronny terarah pada sepasang payudara montok yang seperti gunung hendak meletus. Tangan Ronny dengan lincah jari-jari tangannya meremas remasbuah dada Yulia yang tegak bagai gunung kembar tersebut.

Buah dada Yulia nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuat Ronny tak sabar untuk meremas dan menyedot putting susunya. Sedetik kemudian, payudara wanita berjilbab ini telah berada dalam mulut Ronny yang menyedot dengan nafsu secara bergantian. Puting susu yang telah tegak mengeras tersebut di hisap dan diremas-remas membuat Yulia terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Payudara Yulia yang
putih mulus itu dalam sekejap basah oleh liur Ronny. Ronny sudah tak tahan menahan nafsunya.
Ronny tidak menyangka kalau saat ini Ronny berhasil menelanjangi wanita rekan kerjanya yang tampak alim ini dengan jilbab dan pakaian yang tertutup rapat. Birahinya sudah menggelegak di ubun-ubun dengan ****** yang tegang mengeras. Ronny melihat ibu muda berjilbab ini mempunyai badan yang
indah dan terlihat masih kencang.Ronny menyusuri keindahan badan telanjang wanita muda rekan kerjanya tersebut dari muka yang terbalut jilbab hingga ke kakinya. Kemudian mata Ronny kembali menatap kemaluan Yulia yang indah itu, tangan Ronny kembali terulur menjamah bagian kewanitaan wanita alim yang telanjang ini. Ronny merasakan kewanitaan Yulia berdenyut liar, bagai memiliki
kehidupan tersendiri. Warnanya yang merah basah, kontras sekali dengan rambut-rambut lebat di sekitarnya. Dari jarak yang sangat dekat, Ronny dapat melihat betapa lubang kewanitaan wanita berjilbab lebar tersebut membuka-menutup dan dinding-dindingnya berdenyut-denyut, sepertinya jantung Yulia telah pindah ke bawah. Ronny juga bisa melihat betapa otot-otot di pangkal paha Yulia menegang seperti sedang menahan sakit.

Begitu hebat puncak birahi melanda Yulia, sampai dua menit lamanya perempuan yang menggairahkan ini bagai sedang dilanda ayan. Ia menjerit tertahan , lalu mengerang, lalu menggumam, lalu hanya
terengah-engah. Batang kejantanan Ronny segera terlihat tegak bergerak-gerak seirama jantungnya yang berdegup keras. Yulia masih menggeliat-geliat dengan mata terpejam, menampakkan
pemandangan sangat seksi di atas kasur ini.
Tangan ibu muda berjilbab ini mencengkram kasur bagai menahan sakit, kedua pahanya yang indah terbuka lebar, kepalanya yang terbalut jilbab mendongak menampakkan ekspresi muka menggairahkan, jilbabnya bagai membingkai mukanya yang sedang berkonsentrasi menikmati puncak birahi. Ronny menempatkan dirinya di antara kedua kaki Yulia, lalu mengangkat kedua paha wanita berjilbab ini, membuat kemaluan Yulia semakin terbuka.

Sesaat kemudian dengan cepat ****** Ronny yang tegang segera melesak ke dalam badan Yulia melalui
lubang memeknya. Ronnypun segera menunaikan tugasnya dengan baik, mendorong, menarik kejantanannya dengan cepat. Gerakannya begitu ganas dan liar, seperti hendak meluluh-lantakkan badan Yulia yang sedang menggeliat-geliat kegelian itu. Tak kenal ampun, batang ****** Ronny menerjang-nerjang, menerobos dalam sekali sampai ke dinding belakang yang sedang berkontraksi menyambut orgasme. Wanita alim ini merintih dan mengerang penuh kenikmatan. Ronny mengerahkan seluruh tenaganya menyebadani wanita yang alim ini. Otot-otot bahu dan lengannya terasa menegang dan terlihat berkilat-kilat karena keringat. Pinggang Ronny bergerak cepat dan kuat
bagai piston mesin-mesin di pabrik.

Suara berkecipak terdengar setiap kali badannya membentur badan Yulia, di sela-sela desah dan erangan Yulia. Yulia merintih dan mengerang begitu
jalang merasakan kenikmatan yang ganas dan liar. Seluruh badannya terasa dilanda kegelian, kegatalan yang membuat otot-ototnya menegang. Kewanitaannya terasa kenyal menggeliat-geliat, mendatangkan
kenikmatan yang tak terlukiskan. Dengan mata merem melek, Yulia mengerang dan merintih penyerahan sekaligus pengesahan atas datangnya puncak birahi yang tak terperi. Ronny merasakan batang kejantanannya bagai sedang dipilin dan dihisap oleh sebuah mulut yang amat kuat sedotannya.
Ronny tak mampu menahan lagi, Kenikmatan yang didapatkan dari jepitan kemaluan wanit alim ini tidak mungkin dilukiskan. Dengan geraman liar Ronny memuncratkan seluruh isi kontolnya dalam lubang memek Yulia, bercipratan membanjiri seluruh rongga kewanitaan wanita berjilbab lebar yang sedang megap-megap dilanda orgasme. Yulia mengerang merasakan siraman birahi panas dari ujung ****** Ronny ke dalam dasar kemaluannnya. Ronny merasakan jepitan Yulia kian ketat berdenyut-denyut pada batang kontolnya dan cairan kewanitaan wanita alim ini terasa mengguyur batang kontolnya yang datang bergelombang. Ronny menggeram liar disusul Yulia yang mengerang dan mengerang lagi, sebelum akhirnya terjerembab dengan badan bagai lumat di atas kasur.

Ronny menyusul roboh menimpa badan motok Yulia yang licin oleh keringat itu. Nafas Ronny tersengal-sengal ditingkahi nafas Yulia
yang juga terengah bagai perenang yang baru saja menyelesaikan pertandingan di kolam renang. Badan Ronny lunglai di atas badan telanjang Yulia yang juga lemas.
“Oh, nikmat sekali. Betul-betul ganas…” kata Yulia akhirnya, setelah ia berhasil mengendalikan nafasnya yang memburu.

“bagaimana mbak Yulia… nikmat kan? Bagaimana jika sekali lagi mbak…” ujar Ronny sambil terengah-engah sementara kedua tangan sibuk meremas – remas buah dada Yulia.
“jangan mas… aku dah gak kuat… kapan-kapan lagi aja mas” sahut Yulia diantara nafasnya yang memburu. Sementara badannya sudah bagaikan kehilangan tulang.
Tetapi Ronny yang tengah asyik meremas-remas payudara Yulia seolah tak mendengar keluhan Yulia, Ronny justru tersenyum buas sambil tangan kanannya bergerak mengelus-elus paha dan kemaluan Yulia yang berlepotan sperma. Diperlakukan seperti itu Yulia hanya bisa pasrah, matanya merem melek sementara badannya sudah tak berdaya.
Ronny menjadi tak tahan. Laki – laki ini segera menindih Yulia yang tengah pasrah. Yulia sempat melirik ****** besar Ronny sebelum ****** besar dan panjang itu mulai melesak ke dalam lubang memeknya untuk yang ketiga kalinya. Wanita alim ini mengerang dan merintih kenikmatan saat dirasakannya ****** Ronny menyusuri lubang memeknya kian dalam, dan wanita ini terpaksa kembali membuka pahanya lebar-lebar untuk menerima sodokan ****** yang besar dan panjang sperti milik Ronny. Tak berapa lama kemudian, Ronny menaik turunkan pantatnya diatas kemaluan Yulia. Kini Ronny mulai menggerak-gerakkan kontolnya naik-turun perlahan di dalam lubang kamaluan wanita alim yang hangat itu. Lubang yang sudah sangat becek itu berdenyut- denyut, seperti mau melumat kemaluannya. Rasanya nikmat sekali. Ronny mendekatkan mulutnya menciumi muka ayu Yulia. Tangan Ronny juga menggerayangi payudara putih mulus yang sudah mengeras bertambah liat itu. Diremas- remasnya perlahan, sambil sesekali dipijit-pijitnya bagian putting susu yang sudah mencuat ke atas. Pinggul wanita alim yang besar ini ikut bergoyang-goyang sehingga Ronny merasakan kenikmatan di dalam selangkangannya. Sementara lubang memeknya sendiri semakin berlendir dan gesekan alat kelamin kedua manusia lain jenis ini itu menimbulkan bunyi yang seret-seret basah.

“Prrttt… prrrttt… prrttt.. ssrrrtt… srrrttt… srrrrttt… ppprttt… prrrttt…”
****** besar Ronny memang terasa sekali, membuat kemaluan Yulia seperti mau robek. Lubang memek wanita berusia 25 tahun ini menjadi semakin membengkak besar kemerah-merahan seperti baru melahirkan. Membuat syaraf-syaraf di dalam lubang senggamanya menjadi sangat sensitif terhadap sodokan kepala ****** laki – laki ini. Sodokan kepala ****** itu terasa mau membelah bagian selangkangannya. Belum lagi urat-urat besar seperti cacing yang menonjol di sekeliling batang kemaluan Ronny membuat Yulia merasakan nikmat yang luar biasa. Meski agak pegal dan nyeri Karen sudah ketiga kalinya disebadani oleh Ronny tapi rasa enak di kemaluannya lebih besar. Lendirnya kini makin banyak keluar membanjiri kemaluannya, karena rangsangan hebat pada wanita alim ini. Ketika Ronny membenamkan seluruh batang kemaluannya,Yulia merasakan seperti benda besar dan hangat berdenyut- denyut itu masuk ke rahimnya. Perutnya kini sudah bisa menyesuaikan diri tidak mulas lagi ketika saat pertama tadi laki – laki ini menyodok- nyodokkan kontolnya dengan keras.

Yulia kini mulai menuju puncak orgasme. Lubang memeknya kembali menjepit-jepit dengan kuat ****** Ronny. Kaki wanita berjilbab ini diangkat menjepit kuat pinggang Ronny dan tangannya mencengkram kasur. Dengan beberapa hentakan keras pinggulnya, Yulia memuncrakan cairan dari dalam lubang memeknya menyiram dan mengguyur kemaluan Ronny disertai erangan panjang penuh kenikmatan. Setelah itu Yulia terkulai lemas di bawah badan berat Ronny. Kaki wanita berjilbab lebar tersebut mengangkang lebar lagi pasrah menerima tusukan-tusukan kemaluan Ronnyi yang semakin cepat.
Tanpa merasa lelah Ronny terus memacu kontolnya dan sesekali menggoyang-goyangkan pinggulnya. Sepertinya ia ingin mengorek-ngorek setiap sudut kemaluan wanita alim ini. Suara bunyi becek makin keras terdengar karena lubang memek Yulia itu kini sudah dibanjiri lender kental yang membuatnya agak lebih licin. Yulia mulai merasakan pegal di kemaluannya karena gerakan Ronny yang bertambah liar dan kasar. Badannya ikut terguncang-guncang ketika Ronny menghentak-hentakkan pinggulnya dengan keras dan cepat.

“Plok.. plokk… plok.. plookk…
crrppp… crrppp… crrrppp… srrrpp… srrppp…” Bunyi keras terdengar dari persenggamaan ketiga kalinya oleh Ronny dan Yulia .
“Mas Ronny….. ouhhh pelan, …!” desis Yulia sambil meringis kesakitan.
Kemaluannya terasa nyeri dan pinggulnya pegal karena agresivitas Ronny yang seperti kuda liar. Akhirnya Ronny mulai mencapai orgasme. Dibenamkannya muka Ronny pada buah dada Yulia
dan ditekankannya badannya kuat-kuat sambil menghentakkan pinggulnya keras berkali-kali membuat badan Yulia ikut terdorong. Muncratlah air mani dari kontolnya mengguyur rahim dan kemaluan wanita berjilbab lebar tersebut. Karena banyaknya sampai-sampai ada yang keluar membasahi permukaan kasur
Kedua mata Yulia terpejam dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Ronny Cuma menggumam, menenggelamkan kepalanya di antara dua payudara Yulia yang lembut. Begitu gelombang kenikmatan berlalu, kesadaran kembali memenuhi ruang pikiran wanita alim ini. Yulia hanya bisa terlentang tak berdaya, meskipun hanya sekedar memakai pakaiannya kembali. Melihat tersebut Ronny tersenyum puas karena niatnya menyebadani wanita rekan kerjanya tersebut terbayar sudah. Ronny kemudian bangkit berdiri memakai pakaiannya kembali dan pergi ke kamar mandi dibagian belakang. Beberapa saat kemudian kekuatan Yulia sudah mulai pulih, tapi Yulia jadi bingung karena celana panjang, celana dalam dan BHnya tergeletak diluar kamar. Mau keluar Yulia tidak berani karena takut jika ada pembeli yang masuk. Lima belas menit kemudian Ronny masuk kedalam kamar dan menyerahkan celana panjang Yulia tanpa BH dan celana dalamnya.

“BH dan celana dalammu tak cuci di kamar mandi mbak, tadi kotor kepakai ngelap sepermaku tadi….” Ujar Ronny sambil tersenyum.
Yulia terpaksa memakai pakainnya tanpa celana dalam dan BH, sehingga tampaklah cetakan pantat dan buah dadanya. Dengan gontai Yulia berjalan ke kamar mandi untuk mandi karena jarum jam menunjukkan pukul 3.00 sore. Setelah mandi badan Yulia Nampak segar, kemudian duduk disamping Ronny yang tersenyum memandangnya dengan mesum. Sementara hujan diluar sudah mulai reda, dan jalan mulai ramai oleh pejalan kaki.