CERITA SEX JILBAB : AISYAH GURU SMP
| January 11, 2015
Aisya
Pradana, seorang guru di SMP Negeri ternama di Solo berusia 26 tahun,
benar-benar telah membuatku terpesona. Walaupun usiaku telah 53 tahun,
penisku terasa selalu tegak ketika melihatnya. Sekilas cerita, Dengan
Jilbab lebar khas seorang muslimah sejati, dia benar-benar sosok istri
yang sempurna. Ditambah dengan kacamata minus yang bergantung di depan
mata indahnya, hmm … kecantikannya betul-betul menakjubkan.
Sebetulnya
aku agak segan juga mendekatinya, karena begitu santun dan alim
perilakunya, serta perbedaan umur kami yang terpaut seperempat abad.
Suatu
sore aku melihatnya sedang duduk di beranda depan Ruang Guru,
sepertinya sedang menunggu hujan yang sedari siang tadi mengguyur kota
Solo dengan deras. Perlahan aku pun mendekati, hingga kemudian duduk di
sebelahnya.
“Assalamualaykum, Bu Aisya”
“Waalaykumsalam … Ehh, Pak Hadi. Belum pulang Pak?”
“Belum. Ibu sendiri kenapa belum pulang?”
“Menunggu hujan reda, Pak. Deras sekali hujannya, nggak berhenti berhenti dari tadi siang.”
Sembari
mendengar suaranya yang merdu, mataku sedikit melirik ke arah dadanya
yang sedikit membusung. Jilbab panjangnya yang berwarna krem tak mampu
menutupi kenyataan bahwa payudara akhwat ini memang cukup besar. Aku
taksir ukurannya sekitar 36B. Cara duduk Aisya juga begitu anggun. Ia
menyilangkan kaki, sehingga rok panjangnya sedikit tertarik ke atas dan
memperlihatkan sedikit bagian betisnya yang tertutupi oleh kaos kaki
berwarna putih.
Kurasa
inilah saatnya bagiku untuk bisa menaklukkan rekanku sesama guru yang
menggairahkan ini. Kulihat kiri dan kanan tak ada seorang pun yang lewat
karena aktivitas kampus memang sudah selesai semua. Hasrat mudaku pun
kembali bergelora, aku pun mulai membaca-baca wirid pemikat yang dulu
kupelajari di Gunung *****. Namun tanpa kuduga, Aisya tiba-tiba berdiri
hingga aku pun terlepas dari kekhusyukan wiridku.
“Mau
ke mana, Bu ?” Aku selalu memanggilnya dengan panggilan Bu Aisya,
selain sebagai rasa hormat, juga untuk menyingkirkan perbedaan umur yang
cukup jauh di antara kami berdua.
“Sepertinya
hujannya masih lama berhentinya, saya mau toilet dulu yah, permisi …
Assalamualaykum,” jawabnya sambil berlalu ke arah toilet guru.
Aku
yang sudah setengah jalan membaca wiridku pun tak tinggal diam. Aku
selesaikan pembacaan wiridku dengan sungguh-sungguh hingga siapapun yang
melihat tatapan mataku akan jatuh hati dan menuruti semua kemauanku.
Ilmu ini telah kukuasai sejak lulus kuliah dulu. Beberapa kawan
pengajian ada yang memberikan informasi tentang wirid ini, dan aku pun
langsung mencarinya sampai ke Gunung ***** dan akhirnya aku pun berhasil
mendapatkannya, dengan perjuangan yang tak bisa dibilang ringan.
Setelah
aku merasa percaya diri dengan wiridku, aku pun langsung mengikuti
Aisya hingga ke toilet yang berada di belakang ruang guru. Aku tahu
seluruh guru telah pulang, karena akulah yang terakhir berada di ruang
guru tadi, jadi sepertinya rencana sore ini akan aman. Ketika kutengok
ke setiap sudut toilet, tidak tampak sosok Aisya. Ketika kudengar
gemericik air di kamar mandi wanita, maka aku pun menyimpulkan bahwa
Aisya pasti sedang pipis.
Dengan
cekatan aku pun memasang badan di depan tempat kamar mandi sambil
menunggu Aisya keluar. Benarlah, tak lama kemudian sesosok tubuh yang
sintal berjilbab panjang keluar dari kamar mandi tersebut. Tanpa
menunggu lama, aku pun langsung melancarkan pandangan mautku.
“Bu
Aisya …”Ujarku sambil mencegat dan menatap mata Aisya. Mata nan indah
itu tiba-tiba menjadi sayu seperti orang yang hilang kesadarannya. Tapi
sebenarnya kesadarannya tidak hilang, hanya nafsu seksualnya saja yang
tiba-tiba menggelegak.
“Akhhh … Pak Hadi …” Efek dari ilmuku begitu cepat hadirnya, kini Aisya pun telah terjebak dalam permainan nakalku.
Tubuh
kami berdua tiba-tiba mematung, tak bergerak sedikit pun. Sunyi, tak
ada yang bersuara.Hingga akhirnya Aisya sendiri yang memecah keheningan
itu dengan berjalan tapak demi tapak ke arahku. Saat ia telah tepat
berada di hadapanku, ia pun memeluk tubuhku yang berbulu lebat ini.
Begitu saja aku sudah gembira bukan kepalang. Seorang guru psikologi
yang alim dan berjilbab panjang dengan ikhlas tengah memelukku untuk
mendapatkan kehangatan birahi dariku. Dapat kurasakan dadanya yang besar
naik turun, jantungnya berdetak begitu cepat, tanda-tanda seorang
wanita tengah terkena badai gairah.
Untuk
berjaga-jaga agar tak terlihat orang, aku pun menggandengnya ke
belakang tempat wudhu, sebuah kebun yang cukup tertutup, sehingga terasa
aman. Aisya pun menurut saja ketika aku menyandarkan tubuhnya ke
dinding, pipinya yang merah benar-benar menggodaku untuk langsung
mengecupnya dengan lembut. Tubuh kami berpelukan erat, dan bibirku pun
mulai menjelajahi wajah ayu sang akhwat.
“Pak
Hadi … apa yang Bapak lakukan? Ini salah pak …” dalam kondisi bergairah
pun Aisya masih mampu berpikir tentang salah dan benar, aku pun takjub
dibuatnya. Biasanya para korbanku akan langsung pasrah saja menerima apa
yang aku lakukan. Ohh … aku makin tak sabar untuk menikmati tubuhnya
yang suci ini.
“Nikmati
saja Aisya, Bapak janji akan memberikanmu kenikmatan yang tak pernah
kau reguk sebelumnya.” Bisikku sambil mejilati pipinya yang ranum. Ahhh …
dia langsung mendesah ringan merasakan hangat dan basahnya lidahku di
lesung pipitnya.
Tangan
kiriku menggenggam erat tangan kanan Aisya dan sedikit menelikungnya ke
belakang. Dapat kurasakan basahnya air wudhu masih mengaliri lengannya
yang halus dan putih. Sementara itu, tangan kananku pun mulai berani
menelusuk masuk ke balik jilbab panjangnya. Satu persatu kancing
jubahnya aku lepas, hingga payudaranya yang besar itu pun menyembul
keluar.
“Ukhti … toketnya besar sekali yah, boleh Bapak remas?”
“Ahhh
… ahhh, boleh Pak. Remas saja …” Jawab Aisya di sela-sela kehausan
birahinya. Ia kini mencari cari bibirku untuk dikecupnya, tampaknya dia
lumayan ahli juga dalam masalah seksual.
“Ukurannya berapa Bu?”
“36B, Pak. Dan tolong panggil saya Aisya saja … ahhh”
“Besar juga yah Ma, Bapak jadi nafsu banget ngeliat toket kamu.”
Kali
ini aku tanganku berganti posisi, tangan kananku berubah menelikung
tangan halus Aisya, sedangkan yang kiri meremas2 payudara yang
berbungkus bra putih berenda itu perlahan-lahan. Aisya sepertinya belum
pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya, sehingga dia kaget dan
desahannya menjadi tak tertahan. Aku pun langsung menutup mulutnya
dengan bibirku, dan memainkan lidahku di dalam mulutnya yang manis.
Aisya yang tak mengerti apa-apa hanya membalas permainan lidahku
sebisanya, matanya tampak sayu di balik kacamata yang membuatnya tambah
manis itu.
Beberapa
menit kami bertahan dengan posisi itu, hingga Aisya pun menggerakkan
tangannya untuk memeluk pinggulku. Melihatnya sudah mulai agresif, aku
pun mengendurkan telikunganku ke tangannya dan ikut memeluk pinggulnya.
Pinggul nan padat itu terasa seksi dan sintal sekali. Belum pernah aku
merasakan tubuh wanita yang benar-benar sempurna seperti ini. Aku pun
mulai berani merangsang Aisya, guru berkacamata dan berjilbab panjang
itu dengan kata-kata kotorku.
“Aisya … mau gak ukhti lihat kontol Bapak?”
Dia
tampak terkejut dengan kata-kataku. Wajahnya memerah dan terasa dadanya
bergetar kencang. Namun akhirnya dia pun menyerah dan menganggukan
kepala, “Mau Pak.”
“Tapi kontol bapak kan hitam, lagipula udah bekas dipakai Bu Maryam (istriku)”
“Gak
apa-apa Pak, Aisya udah gak tahan …” Ia pun akhirnya jujur tentang
perasaannya, aku pun tak ingin membuatnya menderita lebih jauh dan
langsung mengeluarkan kontolku dari balik celana panjangku.
Dengan
gerakan reflek, Aisya langsung menggenggam kontolku dengan tangannya,
hingga membuatku serasa melayang. Tangannya begitu halus dan lembut,
ahh, serasa di surga. Aku singkapkan jilbab panjangnya dan langsung
kepalaku aku masukkan ke baliknya guna mengemut payudara Aisya yang
demikian menantang. Putingnya telah membesar, warnanya merah muda,
bentuknya juga bulat sempurna, benar2 payudara idaman setiap pria. Kami
pun saling memuaskan gairah masing-masing hingga matahari tak terasa
mulai turun.
Aku
pun kaget dibuatnya, menurut guruku, ajian pemikat yang kupakai ini
akan hilang khasiatnya bila azan berkumandang. Aku pun berinisiatif
untuk menuntaskan hajatku dan yang lebih penting lagi … membuat agar
Aisya mau melakukannya lagi denganku di kemudian hari, kalau perlu tanpa
ajian pemikat sekalipun.
“Aisya, coba kamu berbalik sayang …”
Ia
pun menurut sambil mendesah ringan. Aku remas pantatnya dari balik
roknya hingga Aisya sedikit mengerang, suaranya terdengar begitu binal,
berbeda sekali dengan kesehariannya yang biasa bersuara lembut, merdu
dan anggun. Sedikit demi sedikit aku angkat roknya hingga ke pinggang
dan aku turunkan celana dalamnya yang berwarna putih berenda, hampir
mirip dengan corak bra-nya. Aisya memang suka sekali dengan warna putih,
yang identik dengan kesucian, walau sebentar lagi kesucian yang selama
ini dijaganya akan kurenggut dengan penuh kenikmatan.
Tangan
kiriku mulai meraba-raba memeknya yang sudah basah oleh lender
kemaluan. Aisya tampak telah begitu terangsang, aku pun langsung
memposisikan kontolku di depan memeknya. Aisya mendesah makin keras
ketika ujung kontolku menempel di bibir memeknya, lehernya kuciumi
dengan lembut dan kuperlakukan ia seperti istriku sendiri. Bedanya kami
tidak berada di ranjang yang empuk, tapi sedang bersandar di kebun
belakang Ruang Guru tempat kami bekerja. Sebentar Aisya membetulkan
letak kacamatanya yang telah bergeser kesana kemari, dan pada saat yang
sama aku pun menghujamkan penis hitamku ke dalam memeknya, Ughhh …
“Ahhhhhhh,
Paaaaakkk Haddiiiii … Kontolnya gedeeeee ….” Aku tak menyangka Aisya
yang begitu alim bisa mengeluarkan erengan binal seperti itu. Memeknya
tampak berkedut-kedut menghisap kontolku penuh birahi. Tak sesempit
milik Aini memang, tapi tubuh Aisya begitu harum hingga aku benar-benar
bergairah dibuatnya. Tak lama kemudian aku pun menyentuh selaput daranya
dan … ahhh, aku kembali memerawani akhwat berjilbab panjang, cantik
pula.
Aku
pun mendapat ide untuk merekam persetubuhanku dengan Aisya, sang akhwat
alim itu. Aku keluarkan handphoneku yang berkamera lalu merekam video
persetubuhanku dengan wanita berjilbab yang telah lama kuidamkan ini
dari arah kanan, sambil tetap menggenjot memeknya yang telah terasa
begitu licin karena cairan birahinya yang membanjir. Sengaja aku hanya
menyorot tubuhnya saja dan membuat sedemikian rupa agar wajahku tak ikut
terekam, Ohh, pintarnya aku. Dia pasti tak akan bisa menuntutku balik
karena tak ada bukti aku pernah menyetubuhinya, tapi ada bukti kalau ia
pernah meringis-ringis kenikmatan ketika disetubuhi pria yang bukan
mahromnya.
Beberapa
menit kemudian, tubuh Aisya terasa menegang. Aku yang sudah pengalaman
tentu tahu kalau ini adalah cirri-ciri wanita yang akan orgasme. Aisya
begitu menikmati pengalaman pertamanya bersetubuh denganku, tak heran
kalau ia bisa secepat itu mencapai orgasme. Ia pun mulai meraung mencari
kenikmatan sejatinya. Pinggulnya maju mudur mengikuti genjotan kontolku
di memeknya yang suci itu.
“Ahh … ahhh … ahh, Aisya mau pipis pakk …ahh”
“Lepaskan semua birahimu sore ini sayang … Bapak akan buat kamu melayang”
“Ahhh
ahhhhhhhhhhhh ahhhhhhhhhhhh, Pakkkkkkkkk …………. Aisya gak kuat ………..”
sedetik kemudian cairan cinta dalam jumlah yang banyak terasa menyiram
kontolku di dalam memek Aisya. Aisya pun langsung ambruk setelah orgasme
yang mungkin baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.
Baru
pertama kali ini aku bersetubuh dengan seorang wanita di mana wanita
itu langsung ambruk setelah orgasme. Aisya adalah salah satu wanita
terunik yang pernah kurasakan. Untungnya tepat setelah itu baru adzan
maghrib berkumandang, tanda ajian pemikatku sudah tak ada pengaruhnya
lagi pada diri Aisya. “Untung saja dia langsung ambruk,” pikirku.
Aku
menyeka keringat yang bergulir di pipi akhwat yang cantik itu sambil
memeluknya di bahuku. Aku pun mengeluarkan sapu tanganku dan mengelap
kemaluannya yang telah banjir dengan cairan kenikmatannya sendiri.
Setelah itu aku rapikan jubah, rok dan jilbabnya, aku masukkan kembali
payudaranya yang indah yang tadi menyembul keluar, kemudian aku gendong
tubuh indah seorang Aisya Pradana menuju mobilku. Selama menggendong
Aisya, jujur birahiku naik turun. Tak tahan ingin kembali menggumulinya,
tapi aku musti bersabar, karena orang sabar disayang Tuhan katanya.
Entah petualangan apa lagi yang akan kujalani dengan Aisya


